Editorial Redaksi
Demonstrasi 25–28 Agustus adalah cermin, rakyat sudah sampai di titik jenuh, di jagat X dan sosial media lain, suara yang terdengar bukan lagi sekadar kritik, melainkan ultimatum, bersihkan, atau Anda akan ikut tenggelam.
Presiden Prabowo baru beberapa bulan duduk di kursi, tapi bayang-bayang Jokowi masih begitu pekat, bayangan itu bukan sekadar nama, melainkan kumpulan luka, DPR yang lebih mirip pasar kepentingan, aparat kepolisian yang kerap menjadi alat kuasa, hingga tokoh-tokoh yang hanya kuat bersandar pada oligarki, semuanya kini menumpuk jadi warisan – warisan yang bikin rakyat muak.
Ironisnya, kejahatan korupsi yang dulu rapi disembunyikan perlahan terbongkar, publik tak lagi bisa dibohongi dengan pencitraan, apalagi retorika “stabilitas”, ketika fakta kotor mulai menyeruak, kesabaran rakyat otomatis menipis.
Harapan publik sederhana tapi tegas, Prabowo harus berbeda, bersih-bersih bukan lagi pilihan, tapi harga mati, DPR harus dikocok ulang dari jerat mafia anggaran, kepolisian harus dibebaskan dari bisnis gelap, dan simbol-simbol masa lalu yang masih bersembunyi di pojok kekuasaan harus disapu habis.
Rakyat tidak butuh presiden yang gemar berpidato panjang, apalagi sibuk meresmikan batu pertama, yang dibutuhkan hanyalah satu, keberanian menebas rantai lama, bila Prabowo gagal menunjukkan itu, ia hanya akan tercatat sebagai presiden yang mewarisi muak, dan tenggelam bersama muak itu.
(C8N)
#senyuman08






