Crew8 News Jakarta, – Di tengah derasnya arus informasi digital, tidak semua pejabat daerah mampu menempatkan diri sebagai figur yang dekat dengan rakyat sekaligus piawai mengelola komunikasi publik. Namun, tahun 2025 ini, sebuah riset social media analytic mengukuhkan nama Vasko Ruseimy, Wakil Gubernur Sumatera Barat, sebagai wakil gubernur paling populer di Indonesia.
Dalam daftar lima besar, Vasko berada di urutan pertama dengan skor 95 dari 100, melampaui nama-nama besar seperti Rano Karno (Wagub DKI Jakarta), Emil Dardak (Wagub Jawa Timur), dr. Jihan Nurlela (Wagub Lampung), hingga Taj Yasin Maimoen (Wagub Jawa Tengah). Infografis yang beredar di jagat maya memperkuat fakta bahwa popularitas seorang pejabat daerah kini tidak hanya dibangun lewat panggung politik tradisional, tetapi juga lewat interaksi intens di ruang digital.
Vasko bukan sekadar pejabat birokrasi. Ia hadir di media sosial sebagai “sahabat digital” masyarakat. Dalam setiap unggahannya, ia tidak hanya menampilkan foto-foto seremonial, tetapi juga kisah sederhana, menyapa pedagang di pasar, berbincang dengan petani di sawah, hingga duduk lesehan bersama tokoh adat di nagari.
Hal ini membuat publik merasa dekat. Kolom komentarnya penuh dengan suara rakyat, dari sekadar salam hangat, kritik tentang jalan rusak, hingga harapan akan program pendidikan. Menariknya, Vasko jarang membiarkan komentar itu berlalu begitu saja. Ia menanggapi dengan bahasa sederhana, kadang berbalut dialek Minang, yang menambah kesan personal.
Popularitas Vasko juga diperkuat oleh perannya sebagai jembatan komunikasi antara Sumatera Barat dan pemerintah pusat. Pertemuannya dengan kementerian atau pejabat tinggi di Jakarta kerap ia bagikan ke media sosial. Namun, alih-alih dengan bahasa teknis yang kaku, ia memilih cara yang sederhana:
“Alhamdulillah, Sumbar mendapat lampu hijau untuk pembangunan jalan nasional. Artinya, akses ekonomi masyarakat kita akan lebih lancar.”
Ungkapan seperti ini membuat masyarakat paham manfaat konkret dari diplomasi politiknya. Hasil lobi yang biasanya hanya diketahui kalangan elite kini bisa dipahami langsung oleh rakyat lewat postingan singkat di linimasa.
Riset social media analytic menempatkan Vasko di posisi teratas bukan semata karena algoritma. Ada trust yang terbangun. Vasko berhasil menjadikan ruang digital bukan sebagai etalase pencitraan, tetapi sebagai forum dialog.
Bandingkan dengan Rano Karno, yang popularitasnya banyak ditopang reputasi panjang di dunia hiburan, atau Emil Dardak, yang konsisten dikenal lewat sorotan media pembangunan. Vasko tampil dengan wajah baru, pejabat daerah yang mampu merajut kedekatan personal sekaligus menjaga kewibawaan politik.
Masuknya nama-nama muda, termasuk dr. Jihan Nurlela, menandakan tren baru, pejabat daerah kini dituntut untuk melek digital. Popularitas bukan hanya tentang panggung fisik, melainkan juga soal bagaimana membangun interaksi yang tulus di dunia maya.
Dalam hal ini, Vasko menjadi contoh nyata. Ia tidak sekadar populer, tetapi juga piawai menjaga komunikasi, menampung aspirasi, serta menghadirkan Sumbar dalam percakapan nasional.
Popularitas memang penting, tetapi yang membuat Vasko menonjol adalah kemampuannya menjaga keseimbangan antara kinerja nyata dan komunikasi publik yang hidup. Ia menampilkan wajah pejabat daerah yang tidak berjarak, namun tetap berwibawa.
Dari ruang digital, ia bukan hanya membangun citra, tetapi juga membangun kepercayaan. Dan di era politik yang kian transparan, barangkali inilah modal paling berharga bagi seorang pemimpin daerah.
(C8N)
#senyuman08






