Crew8 News
PESISIR SELATAN,- Potensi ekonomi Gambir di Kabupaten Pesisir Selatan dinilai sangat besar namun belum dikelola secara maksimal. Hal ini disampaikan oleh Satria Perdana, mahasiswa asal Pesisir Selatan yang juga Wakil Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Pesisir Selatan Universitas Adzkia (IMAPES ADZKIA) dan Bendahara Umum SEMMI Cabang Pesisir Selatan.
Satria menyayangkan minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan sektor Gambir, padahal komoditas ini menjadi salah satu penopang utama ekspor nonmigas Sumatera Barat dan memberi kontribusi signifikan bagi ekonomi nasional.
“Ekonomi Gambir di Pesisir Selatan sangat luar biasa, tapi belum terealisasi dengan baik. Padahal Pesisir Selatan adalah pelaku utama kedua ekspor dunia. Sayangnya perhatian legislatif dan eksekutif daerah masih sangat kurang,” ujar Satria, Jumat (7/11/2025).
Menurut data nasional, nilai ekspor Gambir Indonesia mencapai sekitar US$ 90 juta (Rp 1,35 triliun) pada tahun 2022, dan Sumatera Barat menguasai sekitar 90 persen pasar dunia. Di antaranya, Kabupaten Pesisir Selatan menyumbang sekitar Rp 237,9 miliar per tahun (data 2018).
Namun, lanjutnya, para petani Gambir kini menghadapi penurunan harga drastis dari Rp30–45 ribu menjadi hanya Rp20–25 ribu per kilogram, akibat faktor eksternal seperti konflik dagang antara India dan Pakistan, dua negara importir utama komoditas ini.
“Dengan nilai ekonomi sebesar ini, seharusnya masyarakat bisa menikmati kesejahteraan dari Gambir. Pemerintah daerah harus hadir dengan kebijakan hilirisasi agar harga stabil, daya saing meningkat, dan ekonomi masyarakat tumbuh,” tambahnya.
Satria mendesak Pemkab Pesisir Selatan bersama DPRD untuk membuat Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tata niaga dan pengelolaan industri Gambir, serta membangun pabrik hilirisasi Gambir di tingkat kabupaten. Langkah itu diyakini akan membuka lapangan kerja baru dan memperkuat ketahanan ekonomi daerah.
Dorongan Satria sejalan dengan komitmen pemerintah pusat. Dalam kunjungan kerjanya ke Sumatera Barat, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan keseriusannya untuk membangun pabrik hilirisasi Gambir di Sumbar sebagai bagian dari program peningkatan nilai tambah produk pertanian nasional.
Dikutip dari Jernih News, Mentan Amran mengatakan bahwa pemerintah akan menggandeng berbagai pihak, termasuk BUMN dan investor swasta, untuk memastikan hilirisasi Gambir berjalan nyata, mulai dari riset, pengolahan, hingga ekspor produk turunan.
“Sumatera Barat adalah penghasil Gambir terbesar di dunia. Kita akan bangun pabrik hilirisasi agar tidak lagi menjual bahan mentah. Petani harus menikmati keuntungan dari nilai tambah yang dihasilkan di dalam negeri,” ujar Mentan Amran Sulaiman.
Ia juga menyebutkan bahwa hilirisasi Gambir akan menjadi model transformasi ekonomi daerah berbasis pertanian modern, sejalan dengan program Pertanian 5.0 yang menggabungkan teknologi, inovasi, dan kemandirian pangan.
Dengan komitmen pemerintah pusat tersebut, Satria berharap Pemkab Pesisir Selatan segera menindaklanjuti dengan rencana konkret, mulai dari penyiapan kawasan industri Gambir, regulasi perdagangan, hingga kemitraan dengan investor.
“Jika Mentan sudah berkomitmen membangun pabrik hilirisasi di Sumbar, maka Pemkab Pesisir Selatan harus menjadi garda terdepan. Karena di sinilah potensi Gambir terbesar dan penggerak ekonomi masyarakat,” pungkasnya.
(C8N)
#senyuman08






