Crew8 News
Di sebuah sudut Nagari Limau Puruik, Kecamatan V Koto Timur, Padang Pariaman, hidup seorang remaja yang kesehariannya jauh berbeda dari anak seusianya. Namanya Fitri, siswi kelas VIII SMPN 01 V Koto Timur, seorang “anak nagari” yang tumbuh dalam himpitan keterbatasan, namun memiliki semangat sebesar langit yang membentang di atas kampungnya.
Ayahnya telah meninggal ketika Fitri masih balita. Sejak itu, ibunya menjadi satu-satunya tumpuan bagi lima bersaudara. Namun tanggung jawab hidup yang kian berat membuat Fitri merasa ia tidak bisa sekadar menjadi anak sekolah biasa. Ada peran dan beban yang harus ia pikul, ada keluarga yang perlu ia bantu berdiri tegak.
Bagi Fitri, pulang dari sekolah bukanlah masa bersantai seperti kebanyakan teman-temannya. Begitu sampai di rumah, ia langsung bersiap membantu ibunya menjajakan kue serabi, kue tradisional yang menjadi sumber nafkah keluarga kecil itu. Serabi-serabi itu dibuat sejak pagi, sementara Fitri bertugas menjualnya ke luar nagari.
Setiap sore, ditemani adik sepupunya, Fitri berjalan kaki menelusuri jalanan kampung yang sunyi, menembus cuaca yang tak menentu menuju Kota Pariaman. Perjalanan itu cukup jauh, namun Fitri sudah menjalaninya sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Saya sudah jualan serabi dari SD, sampai sekarang kelas VIII. Saya ingin bantu ibu supaya tetap bisa sekolah dan mencapai cita-cita,” tutur Fitri kepada awak media crew8 News FDJ.
Padang Pariaman belakangan kerap dilanda cuaca ekstrem, hujan deras tiba-tiba, angin kencang, hingga suhu yang tak menentu. Tapi kondisi itu tidak menyurutkan langkah Fitri. Setiap hari ia tetap membawa baki serabi, menyusuri jalanan dari nagari ke kota, berharap bisa membawa pulang cukup uang untuk makan hari itu dan membiayai sekolahnya esok hari.
Kadang serabi itu habis, kadang tersisa. Namun semangatnya untuk terus berjualan tak pernah habis.
Dalam tutur yang lirih namun tegas, Fitri menyampaikan harapannya. Ia berharap pemerintah daerah Padang Pariaman dapat memberi perhatian kepada anak-anak sepertinya, anak-anak yang harus bekerja demi bisa tetap bersekolah.
“Anak-anak lain bisa istirahat setelah pulang sekolah, tapi saya harus ikut bantu ekonomi keluarga,” ungkapnya pelan.
Mimpi Fitri sederhana namun mulia, ingin tetap sekolah, ingin masa depan yang lebih baik, dan ingin melihat ibunya tersenyum tanpa beban.
Fitri adalah potret ketangguhan generasi muda di daerah-daerah pelosok, yang meski hidup dalam keterbatasan, tetap menggenggam mimpi dan berjalan di atas langkah-langkah kecil penuh harapan.
(FDJ)
#senyuman08






