Crew8 News
Solok, 5 Desember 2025 ,- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Solok menetapkan status darurat bencana selama 14 hari terhitung sejak 25 November 2025, menyusul banjir bandang dan longsor yang melanda sejak 23 November akibat hujan ekstrem. Status darurat siaga satu (awas) ini diberlakukan untuk mempercepat langkah penanganan di wilayah yang masih terisolir dan memerlukan suplai logistik berkelanjutan.
Wakil Bupati Solok H. Candra melaporkan bahwa total warga terdampak mencapai 14.966 jiwa, tersebar di kecamatan Junjung Sirih, X Koto Singkarak, Kubung, hingga Koto Sani. Data sementara BPBD mencatat 211 rumah rusak berat, 243 rusak sedang, 195 rusak ringan, serta 643 hektare sawah terendam. Nagari Muaro Pingai menjadi titik dengan kerusakan terparah, di mana 521 kepala keluarga harus mengungsi atau kehilangan tempat tinggal.
BNPB bersama TNI AU, TNI AD, dan Basarnas telah melakukan operasi udara sejak 28 November sampai 3 Desember 2025 untuk menjangkau daerah yang terputus akses. Total 18 ton bantuan logistik telah disalurkan melalui udara ke sejumlah kabupaten terdampak, termasuk Solok, Agam, dan Padang Pariaman. Pada 3 Desember saja, tercatat 6,5 ton bantuan berupa makanan siap saji, beras, air mineral, obat-obatan, pakaian, tenda, hingga kasur dikirim, dengan 808 kilogram khusus untuk wilayah Solok.
Upaya darurat juga dilakukan di darat. BPBD Solok mengerahkan 25 unit alat berat untuk normalisasi sungai, pembersihan jalan, serta pembukaan akses menuju nagari yang masih tertimbun material. Pemerintah daerah bersama TNI-Polri melakukan gotong royong massal pada sejumlah titik kritis. Sementara itu, Wabup Candra memimpin apel pascabencana pada 1 Desember di Posko Pusdalops Koto Baru guna memastikan seluruh unsur komando bekerja sinkron dalam penanggulangan.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah meninjau lokasi bencana di Nagari Muaro Pingai, Kecamatan Junjung Sirih, pada 2 Desember. Didampingi Wabup Candra dan Bupati Solok Jon Firman Pandu, Mahyeldi menyerahkan bantuan uang tunai senilai Rp68 juta untuk warga dan memastikan percepatan pemulihan. Pemerintah Provinsi Sumbar juga menyalurkan Rp500 juta untuk mendukung penanganan darurat dan rehabilitasi awal.
BPBD Solok terus memperbarui koordinasi dengan BNPB, BMKG, serta TNI-Polri untuk mitigasi lanjutan. Sejumlah langkah seperti gladi posko, peringatan dini cuaca ekstrem, dan sosialisasi evakuasi darurat telah ditingkatkan untuk mengantisipasi potensi bencana susulan mengingat curah hujan masih tinggi dalam sepekan ke depan.
Pemkab Solok mengimbau masyarakat di lereng perbukitan, bantaran sungai, dan wilayah yang pernah mengalami longsor agar tetap waspada. Distribusi logistik akan terus dilakukan, baik melalui jalur udara maupun darat, selama masa tanggap darurat berlangsung.
(C8N)
#senyuman08






