Bantuan Logistik Terus Disalurkan, Akses Rusak Hambat Distribusi Bencana Sumatra

Crew8 News

JAKARTA — Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menyebabkan korban jiwa mencapai 1.006 orang, dengan 217 orang masih dinyatakan hilang hingga 13 Desember 2025. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 654.000 jiwa masih mengungsi, sementara lebih dari 1,2 juta warga terdampak langsung akibat bencana yang terjadi sejak akhir November tersebut.

Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan dampak terparah. BNPB mencatat 415 korban meninggal dunia di provinsi ini, disusul Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Selain korban jiwa, sebanyak 5.400 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Kerusakan infrastruktur juga sangat signifikan, dengan lebih dari 157.900 rumah rusak berat dan sekitar 1.200 fasilitas publik hancur atau tidak dapat difungsikan.

Kerusakan jalan dan jembatan menjadi kendala utama dalam upaya distribusi bantuan. Sejumlah akses vital, termasuk jalur penghubung Aceh–Sumatra Utara serta ruas Bireuen–Takengon, mengalami kerusakan parah. Kondisi ini memperlambat mobilisasi bantuan dan evakuasi korban, terutama ke wilayah pedalaman dan daerah yang terisolasi. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat saat ini tengah membangun jembatan darurat tipe Bailey di sejumlah titik untuk memulihkan konektivitas transportasi.

Pemerintah pusat melalui BNPB dan kementerian terkait terus mengintensifkan penyaluran bantuan logistik. Hingga 9 Desember 2025, total bantuan yang telah dikirimkan mencapai 1.638,96 ton, dengan fokus utama pada kebutuhan pangan, air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan. Stok logistik nasional di gudang tercatat sebesar 468,45 ton, sementara 125 ton bantuan telah disalurkan melalui jalur udara dan laut ke tiga provinsi terdampak.

Di Aceh, BNPB telah menyalurkan 14,78 ton bantuan logistik melalui lima pengiriman darat dan tujuh penerbangan. Bantuan tersebut meliputi bahan pangan, air bersih, obat-obatan, tenda, kasur lipat, matras, dan selimut. Kementerian Sosial juga mengirimkan tambahan bantuan ke empat kabupaten terdampak. Penanganan logistik di Aceh difokuskan untuk memenuhi kebutuhan ratusan ribu pengungsi yang tersebar di berbagai titik.

Sementara itu, di Sumatra Utara, Posko Logistik Silangit telah mendistribusikan sekitar 8.788 kilogram bantuan melalui jalur darat dan udara untuk menjangkau wilayah terdampak. Di Sumatra Barat, pemerintah memastikan kebutuhan dasar pengungsi tetap terpenuhi sembari mempercepat perbaikan akses distribusi bantuan.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi di lapangan. Selain kerusakan infrastruktur, keterbatasan bahan bakar minyak dan kapasitas angkut helikopter menjadi hambatan utama distribusi, terutama ke daerah yang hanya dapat dijangkau melalui udara. Koordinasi lintas lembaga dan ketersediaan data kebutuhan yang rinci di setiap lokasi pengungsian juga dinilai masih perlu diperkuat.

BNPB memproyeksikan kebutuhan logistik untuk periode 15–22 Desember 2025 akan tetap tinggi. Prioritas utama mencakup pangan, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, serta pasokan BBM untuk mendukung operasional alat berat dan transportasi bantuan. Pemerintah menegaskan upaya distribusi akan terus dioptimalkan guna mencegah krisis kemanusiaan lanjutan dan memastikan bantuan tepat sasaran.

(C8N)

#senyuman08

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini