Pemerintah Klaim Ekonomi Indonesia 2025 Solid, Didorong Stimulus dan Stabilitas Makro

Crew8 News

Jakarta — Pemerintah menyatakan perekonomian Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan ketahanan yang solid, ditopang pertumbuhan stabil, inflasi terkendali, serta berbagai indikator makro ekonomi yang tetap berada di zona positif. Klaim tersebut disampaikan melalui paparan Year in Review: Ekonomi Indonesia 2025 yang dirilis Kantor Staf Presiden (KSP) dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (31/12/2025).

Dalam paparan tersebut, pemerintah menegaskan bahwa dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian tidak menghambat kinerja ekonomi nasional. Sejumlah kebijakan stimulus dan paket ekonomi disebut menjadi penopang utama pergerakan sektor riil, konsumsi masyarakat, hingga investasi.

Sepanjang 2025, pemerintah menjalankan enam klaster utama Program Stimulus dan Paket Ekonomi.

Pertama, penguatan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja melalui program magang lulusan perguruan tinggi, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Alsintan, KIPK, kredit perumahan, serta program padat karya tunai.

Kedua, penguatan daya beli masyarakat melalui bantuan pangan dan bantuan Kartu Sembako di luar skema bantuan sosial reguler, termasuk Bantuan Subsidi Upah (BSU) dan Bantuan Langsung Tunai Subsidi Kesehatan (BLTS Kesra).

Ketiga, stimulus mobilitas penduduk dan pariwisata melalui diskon transportasi kereta api, pesawat udara, angkutan laut, penyeberangan, serta tarif tol pada periode libur sekolah Juni–Juli dan libur Natal–Tahun Baru.

Keempat, dukungan bagi industri padat karya melalui pemberian diskon iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM), serta penguatan skema KIPK.

Kelima, insentif fiskal untuk pekerja dan UMKM melalui kebijakan PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) bagi pekerja sektor pariwisata dan industri padat karya, serta perpanjangan PPh Final UMKM.

Keenam, deregulasi dan debottlenecking melalui PP Nomor 28 Tahun 2025, yang mencakup penyederhanaan regulasi, percepatan perizinan dasar, serta integrasi perizinan lintas kementerian/lembaga ke dalam sistem Online Single Submission (OSS).

Dari sisi kualitas pertumbuhan, pemerintah mencatat sejumlah indikator sosial ekonomi menunjukkan perbaikan. Tingkat partisipasi angkatan kerja mencapai 70,59 persen pada Agustus 2025. Tingkat pengangguran terbuka tercatat menurun menjadi 4,85 persen.

Sementara itu, tingkat kemiskinan nasional tercatat sebesar 8,47 persen pada Maret 2025, sedangkan kemiskinan ekstrem turun menjadi 0,85 persen. Rasio Gini juga menunjukkan tren menurun, tercatat sebesar 0,375, yang disebut mencerminkan perbaikan pemerataan pendapatan.

Pada indikator makro ekonomi, kinerja sektor manufaktur terus menguat. Indeks PMI Manufaktur Indonesia meningkat ke level 53,3 pada November 2025, menandakan fase ekspansi. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada pada level optimistis 124,0, sementara Indeks Penjualan Riil diperkirakan tumbuh 5,9 persen secara tahunan.

Di sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, dengan nilai surplus mencapai USD 35,88 miliar pada periode Januari–Oktober 2025. Cadangan devisa tetap tinggi sebesar USD 150,1 miliar pada November 2025.

Realisasi investasi sepanjang Januari–September 2025 mencapai Rp1.434,3 triliun atau tumbuh 13,7 persen secara tahunan. Pertumbuhan kredit juga tercatat positif sebesar 7,36 persen secara tahunan pada Oktober 2025.

Pemerintah menilai capaian tersebut menjadi fondasi penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia ke depan, di tengah dinamika ekonomi global yang masih bergejolak.

(C8N)

#senyuman08

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini