Crew8 News
BALIKPAPAN – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegur panitia dan petugas protokoler saat peresmian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur, setelah mengetahui Yang Mulia Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ditempatkan di barisan belakang tamu undangan.
Teguran tersebut disampaikan Presiden secara langsung di lokasi acara saat mulai berpidato dan menyapa tamu undangan. Prabowo menilai penempatan Sultan Kutai tidak sejalan dengan etika keprotokolan negara serta tidak mencerminkan penghormatan terhadap tokoh adat dan sejarah bangsa.
Presiden menegaskan bahwa Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara, yang memiliki nilai historis dan simbolik penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, menurut Presiden, Sultan Kutai harus ditempatkan secara terhormat dalam setiap acara kenegaraan yang digelar di wilayah Kalimantan Timur.
“Tokoh adat dan simbol sejarah bangsa harus dihormati,” ujar Presiden di hadapan panitia dan pejabat terkait, seraya meminta agar penataan protokoler segera diperbaiki.
Insiden tersebut menjadi perhatian publik, khususnya masyarakat Kutai. Sejumlah organisasi adat dan kemasyarakatan di Kutai Kartanegara menyampaikan keprihatinan atas penempatan Sultan Kutai yang dinilai kurang pantas. Mereka menilai kehadiran Sultan bukan sekadar undangan biasa, melainkan representasi marwah adat dan sejarah panjang peradaban di wilayah tersebut.
Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura tercatat sebagai kerajaan tertua di Indonesia, dengan jejak sejarah yang telah ada sejak sekitar abad ke-14. Dalam berbagai acara resmi kenegaraan, Sultan Kutai kerap disapa dengan sebutan “Yang Mulia”, sebagai bentuk penghormatan terhadap kedudukan adat dan nilai sejarah yang melekat.
Teguran Presiden Prabowo terhadap protokoler dinilai mencerminkan sikap kenegarawanan dan kepedulian terhadap akar sejarah bangsa, sehingga kedepan pemprov sebagai pemangku kepentingan kewilayahan memberi masukan pada protokol bagaimana tradisi dan posisi pemangku masyarakat adat.
Presiden menekankan bahwa pembangunan nasional tidak hanya berbicara soal infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga tentang penghormatan terhadap identitas, budaya, dan warisan leluhur.
Acara peresmian RDMP Balikpapan sendiri merupakan proyek strategis nasional di sektor energi. Namun, momen teguran Presiden tersebut menjadi sorotan tersendiri, karena menunjukkan perhatian kepala negara terhadap adab, etika, dan penghormatan kepada tokoh adat sebagai bagian dari fondasi kebangsaan Indonesia.
(C8N)
#senyuman08






