Crew8 News
PESISIR SELATAN — Wakil Ketua Ikatan Mahasiswa Pesisir Selatan Universitas Adzkia (IMAPES Adzkia), Satria Perdana, kembali mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan untuk terus berjuang dan tidak diam dalam menyuarakan hilirisasi industri gambir sebagai agenda strategis daerah.
Satria menegaskan, persoalan gambir tidak boleh berhenti pada wacana. Masyarakat, mahasiswa, dan pemerintah daerah harus bersama-sama mengawal proses menuju industrialisasi gambir yang berkeadilan dan berorientasi pada kesejahteraan petani serta penciptaan lapangan kerja.
“Sekali lagi saya mengajak seluruh masyarakat Pesisir Selatan untuk terus mengawal dan tidak lelah menyuarakan hilirisasi industri gambir. Ini adalah potensi besar daerah yang selama ini belum dikelola secara optimal,” ujar Satria, Santu (24/1).
Menurutnya, dorongan hilirisasi gambir sejalan dengan komitmen Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, yang disampaikan saat kunjungan kerja ke Sumatera Barat pada 2025 lalu. Dalam kunjungan tersebut, Mentan menekankan pentingnya penguatan hilirisasi komoditas unggulan daerah untuk meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani.
Satria menilai, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan harus aktif “jemput bola” dengan membangun komunikasi intensif ke tingkat provinsi maupun pemerintah pusat. Hal ini penting mengingat Pesisir Selatan merupakan salah satu pengekspor gambir terbesar di dunia, bahkan menempati posisi kedua secara global.
“Dengan posisi strategis tersebut, rasanya tidak berlebihan jika Pesisir Selatan memiliki industri gambir sendiri. Ini harus menjadi keunggulan daerah, bukan hanya sebagai pemasok bahan mentah,” tegasnya.
Ia menambahkan, hilirisasi industri gambir berpotensi besar membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Satria mengingatkan bahwa angka pengangguran di Pesisir Selatan justru mengalami kenaikan, dari 4,76 persen menjadi 5,06 persen pada tahun 2024, dari total jumlah penduduk sekitar 531.494 jiwa.
“Potensi luar biasa ini harus
dimanfaatkan untuk menekan angka pengangguran. Hilirisasi gambir bukan hanya soal industri, tapi soal masa depan ekonomi masyarakat Pesisir Selatan,” katanya.
Selain mendorong industrialisasi, Satria juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas gambir agar berdampak langsung pada kenaikan harga di tingkat petani. Ia berharap pemerintah daerah dapat memfasilitasi seminar, pelatihan, dan pendampingan teknis guna meningkatkan mutu produksi gambir.
“Kalau kualitas naik, harga akan mengikuti. Ini PR kita bersama. Pemkab harus hadir menjamin peningkatan kualitas agar petani tidak terus dirugikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Satria mendorong peran aktif legislatif daerah untuk menyusun Peraturan Daerah (Perda) tentang gambir, yang mengatur tata niaga, perlindungan petani, standar kualitas, serta distribusi manfaat ekonomi agar benar-benar berpihak kepada masyarakat Pesisir Selatan.
Dalam konteks hilirisasi, Satria menyebut gambir memiliki spektrum pemanfaatan yang sangat luas. Untuk produk konsumsi, gambir dapat diolah menjadi teh herbal.
Sementara untuk kebutuhan industri, gambir dapat digunakan sebagai pewarna tekstil alami, pengawet makanan alami, hingga bahan baku farmasi.
“Potensinya sangat besar. Tinggal bagaimana kemauan politik dan keseriusan semua pihak untuk mewujudkannya,” katanya.
Satria pun mengajak masyarakat untuk terus mengawasi dan mengawal setiap tahapan menuju terwujudnya industri hilirisasi gambir di Pesisir Selatan.
“Mari kita sama-sama mengawasi dan mendorong agar kepentingan masyarakat Pesisir Selatan benar-benar menjadi prioritas. Hilirisasi gambir harus kita ciptakan bersama,” pungkasnya.
(C8N)
#senyuman08






