Kadis KKP Sumbar dan Kadin Bahas Pemanfaatan Baby Fish untuk Pangan Bergizi dan MBG

CREW 8 NEWS| PADANG

SUMATERA BARAT — Pemanfaatan potensi perikanan lokal untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan nilai ekonomi masyarakat menjadi salah satu perhatian dalam pertemuan antara Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sumatera Barat, Sefdinon, S.Sos., MM., dengan jajaran Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

Salah satu gagasan yang dibahas adalah optimalisasi pemanfaatan baby fish, atau ikan berukuran kecil yang berpotensi diolah menjadi pangan bergizi, untuk konsumsi masyarakat sekaligus mendukung kebutuhan bahan pangan bagi Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumatera Barat.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Ir. H. Buchari Butcher, MT., Dt. Panduko Sinaro, Ketua Kadin Sumatera Barat, Buya Guswardi, M.Si., mantan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Padang, Buya Syafrijon, Bendahara APPBMG Kota Padang, Dr. Frinsis Warmansyah, ST., MT., Datuak Paduko Rajolelo, Ketua Kadin Kabupaten Solok, Ir. Yeflin Laundri, M.Si., mantan Kepala Dinas Kominfo Provinsi Sumatera Barat, serta Irsal bin Salini Sali.

Dalam pembahasan tersebut, baby fish dipahami sebagai ikan berukuran kecil yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan setelah melalui penanganan dan pengolahan yang memenuhi standar keamanan pangan.

Pada jenis ikan tertentu, ukurannya yang kecil memungkinkan ikan diolah dan dikonsumsi secara utuh. Kondisi tersebut berpotensi memberikan sumber protein hewani sekaligus kalsium dan mineral dari tulang, apabila jenis dan metode pengolahannya memang memenuhi persyaratan konsumsi.

Potensi tersebut dinilai dapat dikembangkan menjadi berbagai produk pangan bernilai tambah, mulai dari ikan crispy, abon, nugget, bakso ikan hingga produk olahan lainnya.

Namun, pengembangan baby fish untuk kebutuhan pangan perlu didukung kajian yang lebih terukur. Jenis ikan, ukuran panen, kandungan gizi, teknologi pengolahan, keamanan pangan, umur simpan, ketersediaan bahan baku dan kontinuitas pasokan menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan.

Pemanfaatan hasil perikanan lokal juga dinilai memiliki peluang untuk mendukung kebutuhan pangan bergizi dalam program MBG.

Jika dikembangkan secara serius, kebutuhan bahan pangan MBG berpotensi sekaligus menjadi pasar bagi hasil produksi masyarakat. Rantai ekonomi dapat melibatkan pembudidaya, nelayan, kelompok pengolah hasil perikanan, UMKM hingga pelaku usaha penyedia pangan.

Karena itu, pengembangan produk perikanan tidak cukup berhenti pada produksi bahan mentah. Diperlukan sistem yang menghubungkan produksi, pengolahan, pengemasan, penyimpanan hingga distribusi agar produk memenuhi standar yang dipersyaratkan dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Kehadiran Kepala DKP Sumbar dalam pertemuan tersebut menjadi momentum untuk membahas pengembangan sektor perikanan dari sisi produksi sekaligus pemanfaatannya sebagai bagian dari kebutuhan pangan masyarakat.

Sementara Kadin memiliki ruang strategis dalam mendorong pengembangan investasi, kewirausahaan, pemasaran serta penguatan rantai usaha sehingga potensi perikanan daerah tidak hanya menjadi komoditas, tetapi mampu menghasilkan nilai tambah.

Sinergi pemerintah, dunia usaha, pembudidaya, nelayan, UMKM, kelompok pengolah hasil perikanan dan pengelola Dapur MBG dinilai penting agar gagasan tersebut dapat diterjemahkan menjadi program yang terukur dan berkelanjutan.

Pertemuan tersebut menjadi langkah awal untuk mendorong kajian dan tindak lanjut yang lebih konkret mengenai pemanfaatan baby fish.

Kajian tersebut diharapkan mencakup jenis ikan yang sesuai, kandungan gizi, teknologi pengolahan, standar keamanan pangan, kapasitas produksi, harga, kontinuitas bahan baku hingga pola distribusi.

Jika dikembangkan dengan pendekatan yang tepat, pemanfaatan baby fish berpotensi memberikan manfaat ganda: menambah sumber pangan bergizi bagi masyarakat, membuka pasar bagi produk perikanan lokal, sekaligus meningkatkan pendapatan pembudidaya, nelayan dan pelaku UMKM.

Dengan demikian, potensi perikanan Sumatera Barat tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan komoditas, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan pangan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat berbasis sumber daya lokal.

(C8N)

#senyuman08

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini