Crew8 News Arosuka – Proses penyegaran pejabat tinggi pratama di lingkungan Pemerintah Kabupaten Solok terus berlanjut. Setelah melalui tahapan job fit yang hasilnya telah dilaporkan ke Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan ditindaklanjuti Bupati Solok, Jon Firman Pandu, kini panitia seleksi tengah mempersiapkan tahap berikutnya, yakni seleksi terbuka (selter).
Ketua Panitia Seleksi (Pansel) Job Fit, Drs. Bustamar, menjelaskan bahwa job fit dan seleksi terbuka memiliki mekanisme yang berbeda. Job fit pada dasarnya merupakan uji kesesuaian jabatan yang hanya diikuti oleh pejabat eselon II yang sedang menjabat. Dalam mekanisme ini, pejabat dievaluasi dari sisi kinerja, rekam jejak, dan integritas untuk menentukan apakah ia masih layak di jabatan lama, dirotasi ke jabatan lain yang setara, atau diarahkan mengikuti seleksi terbuka.
Berbeda dengan job fit, seleksi terbuka merupakan proses kompetitif yang diumumkan secara transparan kepada publik. Semua ASN yang memenuhi syarat administratif berhak ikut serta, baik dari internal Pemkab Solok maupun dari instansi lain, asalkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Prinsip utama seleksi terbuka adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi aparatur terbaik untuk berkompetisi secara sehat, sekaligus menjamin pengisian jabatan berdasarkan merit sistem, bukan kedekatan atau kepentingan tertentu.
“Hasil job fit kemarin sudah dilantik. Berikutnya, jabatan yang lowong sesuai aturan akan dilakukan seleksi terbuka (selter). Ini terbuka peluang bagi pejabat yang memenuhi syarat untuk ikut. Bagi pejabat yang sudah menduduki jabatan lima tahun atau lebih, sesuai aturan dilakukan evaluasi kinerja. Hasilnya bisa saja yang bersangkutan tetap di jabatan lama, boleh dirotasi ke jabatan lain yang setara, atau mengikuti selter. Evaluasi kinerja ini tetap memperhatikan pola karier dan meritokrasi sesuai aturan yang berlaku,” jelas Bustamar saat ditemui usai pelantikan 14 pejabat eselon II hasil job fit, Jumat (26/9).
Bustamar menambahkan, seleksi terbuka akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat. Panitia seleksi kini tengah merampungkan persiapan teknis agar pelaksanaan dapat berjalan lancar dan sesuai aturan perundangan. “Ada 17 jabatan lagi yang akan diproses. Rinciannya: satu jabatan hasil job fit belum dilantik karena menunggu SK pengangkatan dari Ditjen Dukcapil Kemendagri, satu jabatan Inspektur masih harus mendapat rekomendasi dari Itjen Kemendagri, satu jabatan di Dinas Perhubungan dilakukan evaluasi kinerja, dan 14 jabatan lainnya melalui seleksi terbuka. Semuanya akan kita proses bersamaan dengan pelaksanaan selter,” tambahnya.
Langkah ini, lanjut Bustamar, menunjukkan komitmen Pemkab Solok untuk tetap konsisten pada jalur meritokrasi ASN. Dengan sistem merit, penempatan pejabat tidak semata-mata berdasarkan kedekatan personal atau kepentingan politik, melainkan pada kompetensi, kinerja, serta integritas pejabat yang bersangkutan. “Kami ingin memastikan bahwa pola karier ASN di Kabupaten Solok berjalan sesuai prinsip good governance, dan setiap pejabat mendapat kesempatan yang adil untuk mengembangkan kariernya,” ujarnya.
Bupati Solok, Jon Firman Pandu, sebelumnya juga menekankan bahwa mutasi, rotasi, maupun pengisian jabatan yang dilakukan di lingkup pemerintahannya bertujuan untuk meningkatkan efektivitas organisasi perangkat daerah serta menjawab tantangan pembangunan. Dengan adanya tahapan job fit yang sudah selesai dan seleksi terbuka yang segera digelar, diharapkan akan lahir pejabat-pejabat yang lebih kompeten, inovatif, dan siap melayani masyarakat.
Dengan demikian, setelah tahap job fit yang menghasilkan 14 pejabat baru dilantik, kini Pemkab Solok memasuki fase penting berikutnya: seleksi terbuka untuk mengisi 17 jabatan eselon II. Tahapan ini diharapkan tidak hanya menjadi prosedur administrasi, melainkan juga momentum memperkuat prinsip meritokrasi dalam birokrasi daerah, sekaligus memastikan bahwa setiap pejabat yang duduk di kursi strategis benar-benar orang yang tepat di tempat yang tepat.
Langkah ini mendapat apresiasi dari sejumlah kalangan. Akademisi Universitas Mahaputra Muhammad Yamin (UMMY), Dr. Hendra Syafri, menilai bahwa hasil job fit yang telah dilakukan menunjukkan proses penilaian yang lebih menekankan pada kompetensi, bukan kedekatan politik. “Kalau kita lihat dari pejabat yang dilantik hasil job fit kemarin, terlihat jelas tidak ada indikasi kedekatan politik yang memengaruhi. Artinya, Pemkab Solok sudah berada di jalur yang tepat dalam menerapkan meritokrasi ASN. Ini penting untuk membangun kepercayaan publik,” ujarnya.
Hendra menambahkan, jika tahapan seleksi terbuka berjalan sesuai aturan, maka komitmen Pemkab Solok dalam menegakkan sistem merit akan makin kuat. “Birokrasi yang sehat itu harus bebas dari intervensi politik. Dengan selter, semua ASN yang memenuhi syarat punya kesempatan yang sama. Saya berharap proses ini dijaga betul transparansinya,” katanya.
(C8N)
#senyuman08






