Crew8 News Arosuka – Dari nagari kecil di Kabupaten Solok hingga ke kursi tertinggi ASN daerah, perjalanan Medison adalah kisah pamong sejati. Putra asli Bukik Sileh ini menorehkan karier panjang di dunia birokrasi, melewati seluruh tingkatan eselon, dari V hingga IIA, tanpa sekali pun “melompat jabatan”.
Sebagai alumni Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), disiplin pamong sudah tertanam sejak awal. Pendidikan formalnya di kampus pencetak aparatur negara itu membekalinya dengan dasar kepemimpinan, loyalitas, serta integritas birokrasi. Semua itu terlihat nyata dalam perjalanan kariernya yang ditempuh setahap demi setahap.
Medison mengawali kariernya di eselon V sebagai Kasubsi Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) di kecamatan. Dari sana, ia naik ke eselon IV sebagai Kasubag di Bagian Tata Pemerintahan (Tapem) Kabupaten Sijunjung.
Langkah berikutnya membawanya ke jabatan camat:
Camat Lembah Tarok (eselon IIIB, 2 tahun)
Camat Kamang (eselon IIIA, 5 tahun)
Kedua pengalaman ini membuatnya akrab dengan denyut kehidupan masyarakat nagari, serta memberi fondasi kepemimpinan di lapangan.
Tahun 2011, Medison mencapai level eselon IIB sebagai Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Nagari (BPMN) Kabupaten Sijunjung. Ia menjalani jabatan itu selama lima tahun, bukti pengakuan kapasitasnya di luar kampung sendiri.
Sekembalinya ke Kabupaten Solok, ia dipercaya menjadi Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Nagari (DPMN) selama dua tahun, lalu menjabat Asisten II Setda Kabupaten Solok selama 2,5 tahun. Puncaknya, ia dipercaya sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Solok (eselon IIA).
Ada yang menarik dari dinamika politik dan birokrasi Kabupaten Solok saat ini: baik Bupati Jon Firman Pandu maupun Sekda Medison sama-sama berasal dari Bukik Sileh.
Fenomena ini menghadirkan warna tersendiri, dua putra nagari yang berbeda jalur karier kini bertemu di pucuk pimpinan daerah: Jon Firman Pandu memimpin ranah politik, sementara Medison mengomandoi jalur birokrasi.
“Ini jarang terjadi, duo putra Bukik Sileh berada di garda terdepan Kabupaten Solok. Yang satu jadi Bupati, yang satu lagi Sekda. Bagi kami, ini sebuah kebanggaan,” ujar Junaidi, pensiunan pamong senior Kabupaten Solok.
Menurut Junaidi, karier Medison adalah teladan. “Dari eselon V sampai II, semua dilewati tanpa lompatan. Itu menunjukkan proses yang matang. ASN muda harus belajar bahwa birokrasi itu soal kesabaran dan integritas,” tegasnya.
Kini, Kabupaten Solok dipimpin oleh dua putra nagari Bukik Sileh, Jon Firman Pandu di kursi Bupati, dan Medison di kursi Sekda. Keduanya memegang komando politik dan birokrasi daerah. Perjalanan panjang Medison dari bawah hingga puncak, ditambah kedekatan primordial dengan tanah kelahiran, menjadikannya bukan sekadar pejabat, melainkan simbol pengabdian pamong sejati.
(C8N)
#senyuman08






