Menata Ulang Arah Kesehatan Sumatera Barat, Mewujudkan Generasi Sehat, Masa Depan Hebat

Oleh: Suherman Rahmadhani
Ketua Bidang Kesehatan dan Konservasi Lingkungan SEMMI PW Sumatera Barat

Crew8 News

Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 tahun 2025 yang mengusung tema “Generasi Sehat, Masa Depan Hebat” seharusnya menjadi momentum reflektif bagi kita di Sumatera Barat untuk menilai kembali kondisi kesehatan masyarakat, sekaligus mengarahkan langkah menuju masa depan yang lebih baik. Tema ini mengandung pesan mendalam bahwa masa depan bangsa hanya dapat dibangun di atas pondasi generasi yang sehat secara jasmani, rohani, dan lingkungan.

Sumatera Barat dikenal sebagai daerah yang kaya alam dan budaya, tetapi di balik keindahan itu tersimpan tantangan serius dalam bidang kesehatan. Data Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa beberapa kabupaten masih bergulat dengan angka stunting yang cukup tinggi, terutama di wilayah pedalaman dan perdesaan. Stunting bukan sekadar isu gizi, melainkan cermin ketimpangan sosial dan rendahnya kesadaran akan pentingnya asupan makanan bergizi serta sanitasi yang layak. Masalah ini menuntut perhatian menyeluruh dari pemerintah, masyarakat, hingga lembaga pendidikan karena generasi yang kekurangan gizi hari ini adalah generasi yang kehilangan potensi di masa depan.

Selain itu, penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes, stroke, dan gangguan pernapasan kini menjadi ancaman nyata di Sumatera Barat. Perubahan gaya hidup, pola makan tinggi gula dan lemak, serta rendahnya aktivitas fisik telah menggeser pola penyakit masyarakat. Jika dibiarkan, beban ganda antara penyakit menular dan tidak menular akan terus menekan sistem kesehatan daerah. Di sisi lain, akses terhadap layanan kesehatan di beberapa daerah terpencil masih terbatas, baik dari segi jumlah tenaga medis, sarana, maupun infrastruktur transportasi yang memadai.

Namun, akar dari sebagian besar persoalan kesehatan di Sumatera Barat sesungguhnya juga berakar pada masalah lingkungan. Banyak sungai yang dulunya menjadi sumber air bersih kini tercemar limbah domestik dan industri kecil. Pengelolaan sampah yang belum optimal memperburuk sanitasi, sementara berkurangnya ruang hijau di kota-kota besar seperti Padang dan Bukittinggi turut berkontribusi terhadap penurunan kualitas udara. Krisis lingkungan ini bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga masalah kesehatan publik. Udara kotor melahirkan penyakit paru, air tercemar membawa diare dan infeksi, dan tanah rusak berarti hilangnya sumber pangan bergizi.

Sebagai Ketua Bidang Kesehatan dan Konservasi Lingkungan SEMMI PW Sumatera Barat, saya menilai bahwa transformasi kesehatan daerah harus berjalan beriringan dengan gerakan pelestarian lingkungan. Keduanya tak bisa dipisahkan. Tidak mungkin kita berbicara tentang masyarakat sehat tanpa memastikan udara yang bersih, air yang layak, dan tanah yang subur. SEMMI PW Sumatera Barat berkomitmen memperkuat edukasi publik tentang kesehatan berbasis lingkungan.

Gerakan ini mendorong mahasiswa dan masyarakat untuk terlibat aktif dalam aksi nyata, mengedukasi tentang pola makan bergizi seimbang, mengkampanyekan perilaku hidup bersih, menanam pohon di kawasan kritis, dan menolak kebiasaan membuang sampah sembarangan. Sebab, kesehatan bukan hanya urusan rumah sakit atau puskesmas, tetapi hasil dari kesadaran kolektif seluruh warga.

Pemerintah daerah juga perlu memperkuat kebijakan kesehatan preventif bukan hanya menunggu masyarakat sakit, tetapi mengedukasi agar mereka tidak jatuh sakit. Integrasi antara dinas kesehatan, pendidikan, dan lingkungan harus diperkuat. Sekolah dan kampus harus menjadi ruang pembentukan budaya hidup sehat, bukan sekadar tempat belajar teori. Kader-kader muda SEMMI siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam menggerakkan kesadaran itu di akar rumput.

Kesehatan sejatinya adalah cermin peradaban. Daerah yang sehat adalah daerah yang sadar akan pentingnya kebersihan, keseimbangan alam, dan solidaritas sosial. Sumatera Barat yang dikenal dengan falsafah “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” seharusnya menempatkan kesehatan sebagai bagian dari ibadah sosial bentuk rasa syukur atas nikmat kehidupan dan tanggung jawab moral terhadap generasi berikutnya.

Momentum Hari Kesehatan Nasional 2025 ini harus kita jadikan titik balik untuk menata ulang arah pembangunan kesehatan di Sumatera Barat. Tidak hanya membangun fasilitas fisik, tetapi juga membangun kesadaran kolekti yaitu bahwa kesehatan adalah investasi terbesar sebuah bangsa. Jika generasi kita tumbuh sehat dan sadar lingkungan, maka masa depan hebat yang kita impikan bukan sekadar cita-cita, melainkan keniscayaan.

(C8N)

#senyuman08

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini