Crew8 News
LHOKSEUMAWE — Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) memulai rehabilitasi 98.000 hektare lahan sawah yang terdampak bencana alam di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Program pemulihan sektor pertanian ini ditandai dengan kegiatan groundbreaking rehabilitasi sawah pascabencana yang dilakukan langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Kota Lhokseumawe, Aceh.
Rehabilitasi tersebut mencakup perbaikan dan normalisasi lahan pertanian, pemulihan jaringan irigasi yang rusak, serta penyediaan sarana dan prasarana produksi pertanian. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat kembalinya aktivitas produksi petani yang sempat terhenti akibat bencana.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemulihan sektor pertanian pascabencana merupakan tanggung jawab negara. Menurutnya, pertanian adalah sektor strategis yang tidak boleh berhenti karena berkaitan langsung dengan hajat hidup masyarakat dan ketahanan pangan nasional.
“Negara harus hadir. Begitu bencana terjadi, kami langsung bergerak dari fase tanggap darurat hingga pemulihan. Petani tidak boleh dibiarkan sendiri menghadapi dampak bencana,” ujar Mentan Amran dalam keterangannya di sela kegiatan groundbreaking.
Ia menjelaskan, sejak awal terjadinya bencana, Kementan telah menyalurkan berbagai bentuk bantuan, mulai dari bantuan pangan, benih, pupuk, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga perbaikan infrastruktur pertanian yang rusak. Selain itu, rehabilitasi sawah dilakukan dengan skema padat karya agar petani tetap memiliki sumber penghasilan selama proses pemulihan berlangsung.
“Skema padat karya ini penting agar petani tidak hanya menunggu, tetapi tetap bekerja, memiliki pendapatan, dan secara bertahap bisa kembali menanam,” kata Amran.
Rehabilitasi 98.000 hektare sawah tersebut tersebar di sejumlah kabupaten dan kota terdampak bencana, dengan tingkat kerusakan yang bervariasi, mulai dari endapan lumpur, kerusakan saluran irigasi, hingga rusaknya struktur lahan akibat banjir dan longsor. Kementan memastikan proses rehabilitasi dilakukan secara bertahap dan terukur, dengan prioritas pada wilayah sentra produksi pangan.
Menurut Kementan, pemulihan lahan sawah ini menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas produksi pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi. Dengan kembalinya lahan pertanian ke kondisi produktif, diharapkan produksi padi dan komoditas pangan lainnya dapat kembali normal.
Pemerintah daerah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyambut baik langkah rehabilitasi tersebut. Mereka menyatakan siap bersinergi dengan pemerintah pusat dalam pelaksanaan program, termasuk pendampingan petani dan pengawasan di lapangan agar rehabilitasi berjalan tepat sasaran.
Kementerian Pertanian menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui respons cepat terhadap dampak bencana, sekaligus memastikan keberlanjutan produksi dan kesejahteraan petani di daerah terdampak.
(C8N)
#senyuman08






