Huller Mama Raya Integrasikan Gizi dan Ekonomi Lewat Kemitraan UMKM.

Crew8 News

SOLOK 9/4 – Upaya pelibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai terlihat konkret di lapangan. Yayasan Huller Mama Raya, sebagai pengelola dapur MBG, telah menggandeng UMKM perorangan dalam pemenuhan kebutuhan bahan baku pangan.

Dapur MBG SPPG Huller Mama Raya sendiri terletak di Jalan By Pass Cupak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Lokasi ini menjadi salah satu titik operasional yang aktif dalam mendukung pelaksanaan program MBG di daerah tersebut.

Langkah pelibatan UMKM dibuktikan dengan adanya dokumen Nomor Induk Berusaha (NIB) dari para pelaku UMKM yang telah resmi menjalin kontrak kerja sama dengan dapur MBG. Dokumen tersebut juga telah diperlihatkan kepada awak media Crew8 News sebagai bentuk transparansi pengelolaan program.

Melalui Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Huller Mama Raya, Rizky Febrian Dellas, SH, yang di tugaskan oleh BGN, menyampaikan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan yayasan dalam memastikan seluruh pelaksanaan berjalan sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis (juklak-juknis) yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Secara fasilitas dapur yang menjadi tanggung jawab yayasan sudah terpenuhi sesuai yang di persyaratkan BGN, termasuk sertifikat laik higienis dan standar kelayakan lainnya. Ini penting untuk menjamin kualitas layanan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam aspek rantai pasok, pihak SPPG bersama yayasan juga telah memenuhi amanah Peraturan Presiden dengan melibatkan hampir 10 pelaku UMKM perorangan yang telah dikontrak untuk menyuplai kebutuhan pangan sesuai standar.

Memang untuk koperasi atau badan usaha berbasis kelompok saat ini belum ada yang mengajukan. Namun, kami tetap terbuka jika ke depan ada yang ingin bergabung. Karena sesuai ketentuan BGN, minimal harus melibatkan 14 badan usaha, termasuk UMKM perorangan,” jelasnya.

Menurut Rizky, keterlibatan UMKM ini mulai dilakukan setelah masa uji coba operasional dapur selesai, yang berlangsung sekitar satu bulan di bulan November tahun lalu, Sejak saat itu, sistem kerja sama mulai diperkuat dengan pendekatan profesional berbasis kontrak.

Kami menekankan profesionalitas dalam setiap kerja sama. Tidak hanya administratif, tetapi juga substantif. Karena ini menyangkut persoalan gizi anak dan ibu hamil serta lansia, bukan semata ekonomi. Tujuan utamanya adalah memberikan pelayanan gizi yang layak dan sesuai standar, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal,” tegasnya.

Di kesempatan terpisah, mitra dapur yang juga Ketua Yayasan Huller Mama Raya, Afdal menegaskan komitmennya untuk terus memberdayakan UMKM lokal. Ia menekankan kepada seluruh mitra yang telah berkontrak agar memprioritaskan ketersediaan bahan baku dari sumber lokal.

Kami ingin memastikan bahwa keberadaan dapur MBG ini tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat, tetapi juga memberi dampak langsung terhadap perputaran ekonomi di daerah,”dan Alhamdulillah SPPG kami bisa konsisten dalam memberikan pelayanan dan standar gizi yang layak” ungkapnya.

Pihak yayasan juga menyatakan akan tetap berada dalam garis kebijakan program dengan mengikuti seluruh arahan dan petunjuk dari BGN, baik yang bersifat tertulis dalam kontrak maupun pada perubahan perubahan perbaikan pelayanan.

Dengan langkah ini, dapur MBG Huller Mama Raya menjadi salah satu contoh implementasi awal keterlibatan UMKM dalam rantai pasok program strategis nasional tersebut, di tengah masih terbatasnya partisipasi badan usaha berbasis kelompok di sejumlah daerah.

(C8N)

#senyuman08

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini