Antisipasi El Niño 2026, Pemerintah Perkuat Strategi Air, Benih Tahan Kering dan Cadangan Pangan

JAKARTA, Crew8 News,- Pemerintah memperkuat langkah mitigasi menghadapi potensi dampak El Niño 2026 yang diperkirakan memicu kekeringan panjang, gangguan produksi pangan, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.

Strategi nasional difokuskan pada pengamanan sumber air pertanian, percepatan tanam, penguatan stok pangan, serta sistem peringatan dini berbasis pemetaan iklim.

Berdasarkan proyeksi sejumlah lembaga pemerintah, dampak El Niño berpotensi terasa mulai April hingga Oktober 2026 dengan risiko tertinggi di kawasan rawan kekeringan seperti Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, dan sebagian Kalimantan. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan serius bagi ketahanan pangan nasional jika tidak diantisipasi sejak dini.

Kementerian Pertanian menyiapkan strategi komprehensif melalui penguatan infrastruktur air. Salah satu langkah utama adalah percepatan program pompanisasi untuk mendukung suplai air di lahan sawah, termasuk pemanfaatan sungai, embung, dan sumur di wilayah pertanian yang terancam kekeringan. Selain itu, pemerintah juga mendorong optimalisasi lahan rawa sebagai alternatif menjaga produktivitas saat musim kering ekstrem.

Di sektor budidaya, petani didorong menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim dan menggunakan benih tahan kekeringan. Varietas seperti Inpari 42, Inpari 43, serta seri Inpago 10 direkomendasikan untuk mengurangi risiko puso di daerah rawan. Pemerintah juga mendorong percepatan tanam di wilayah dengan potensi air memadai agar panen dapat berlangsung sebelum puncak musim kering.

Selain padi, diversifikasi komoditas seperti jagung di lahan kering juga disiapkan sebagai opsi adaptasi. Pendekatan ini dipadukan dengan peningkatan penggunaan pupuk organik, mulsa jerami, dan pola tanam hemat air untuk memperkuat daya tahan lahan pertanian terhadap cekaman iklim.

Di sisi cadangan pangan, pemerintah memastikan stok nasional dalam kondisi aman. Penguatan Cadangan Beras Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional dan Perum Bulog disebut menjadi bantalan strategis menghadapi kemungkinan penurunan produksi akibat anomali cuaca.

Penyerapan gabah dalam negeri juga terus diintensifkan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.
Mitigasi lintas sektor turut diperkuat melalui pencegahan karhutla dan modifikasi cuaca. Pemerintah bersama BMKG dan kementerian terkait menyiapkan operasi modifikasi cuaca di wilayah rawan serta memperkuat sistem peringatan dini berbasis data iklim untuk mendukung pengambilan keputusan cepat di daerah.

Pengamat menilai respons dini menghadapi El Niño menjadi faktor kunci mencegah gangguan produksi pangan nasional. Sebab, dampak kemarau ekstrem tidak hanya berisiko terhadap pertanian, tetapi juga pada ketersediaan air bersih, kesehatan masyarakat, hingga potensi lonjakan inflasi pangan.

Pemerintah menegaskan pengalaman menghadapi fenomena serupa pada 2015, 2023 dan 2024 menjadi modal dalam merumuskan strategi antisipatif tahun ini. Fokus kebijakan diarahkan bukan hanya untuk mitigasi jangka pendek, tetapi juga memperkuat ketahanan sistem pangan nasional menghadapi perubahan iklim yang makin ekstrem.

Dengan kombinasi pengelolaan air, adaptasi budidaya, penguatan stok pangan, dan teknologi mitigasi, pemerintah berharap ancaman El Niño 2026 tidak berkembang menjadi krisis pangan, melainkan menjadi ujian kesiapan sistem pertanian nasional dalam menjaga produksi, stabilitas, dan kedaulatan pangan Indonesia.

(C8N)

#senyuman08

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini