JAKARTA, Crew8 News,- Pemerintah Indonesia mulai mempercepat transisi energi rumah tangga dari Liquefied Petroleum Gas (LPG) menuju Dimethyl Ether (DME) sebagai bagian dari strategi besar kemandirian energi nasional. Program hilirisasi batu bara menjadi DME itu kini masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diprioritaskan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Langkah tersebut dinilai menjadi jawaban atas tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang selama ini membebani devisa negara dan anggaran subsidi energi. Pemerintah menargetkan produksi massal DME mulai berjalan pada 2027 setelah proyek hilirisasi di Muara Enim, Sumatera Selatan memasuki tahap konstruksi dan pengembangan industri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya menyebutkan bahwa percepatan proyek DME menjadi bagian dari agenda strategis nasional untuk memperkuat ketahanan energi domestik sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dalam negeri.
Saat ini sekitar 75 hingga 78 persen kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor. Kondisi itu terjadi karena sebagian besar cadangan gas Indonesia didominasi metana dan etana yang kurang sesuai sebagai bahan baku LPG. Akibatnya, ketergantungan impor terus meningkat seiring konsumsi rumah tangga dan sektor usaha mikro.
Melalui pengembangan DME, pemerintah menargetkan pengurangan impor LPG hingga satu juta ton per tahun. Langkah itu diperkirakan mampu menghemat devisa negara sekitar Rp9,1 triliun serta menekan beban subsidi energi dalam APBN hingga Rp7 triliun sampai Rp8,8 triliun per tahun.
Selain faktor ekonomi, proyek ini juga diarahkan untuk memanfaatkan cadangan batu bara kalori rendah yang melimpah di Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan. Selama ini batu bara jenis tersebut memiliki nilai ekspor yang relatif rendah, namun dinilai ideal sebagai bahan baku produksi DME.
Dari sisi lingkungan, DME disebut memiliki emisi gas rumah kaca lebih rendah dibanding LPG. Bahan bakar ini juga tidak mengandung sulfur dan diklaim lebih ramah terhadap lapisan ozon.
Meski demikian, transisi menuju DME diperkirakan tetap menghadapi sejumlah tantangan teknis di tingkat pengguna. Berdasarkan sejumlah kajian energi, DME memiliki efisiensi pembakaran yang lebih tinggi dibanding LPG. Kompor berbahan bakar DME mampu menghasilkan efisiensi pembakaran sekitar 64 hingga 68 persen, sementara LPG berkisar 53 hingga 59 persen.
Namun di sisi lain, nilai kalor DME lebih rendah dibanding LPG. Kandungan panas DME tercatat sekitar 7.749 kkal per kilogram, sedangkan LPG mencapai 12.076 kkal per kilogram. Kondisi itu menyebabkan waktu memasak menggunakan DME diperkirakan sedikit lebih lama dibanding LPG.
Pemerintah memastikan infrastruktur distribusi DME nantinya tidak sepenuhnya dibangun dari nol. Secara karakteristik, DME memiliki sifat fisik yang mirip dengan LPG sehingga masih dapat memanfaatkan sebagian fasilitas yang sudah ada seperti tangki penyimpanan, jalur distribusi, hingga armada pengangkut.
Untuk tahap awal, pemerintah juga membuka kemungkinan pencampuran DME dengan LPG sehingga kompor lama masyarakat masih dapat digunakan. Namun apabila penggunaan DME dilakukan secara penuh, maka diperlukan penyesuaian teknis pada nozzle atau penggunaan kompor khusus agar pembakaran tetap optimal.
Proyek hilirisasi batu bara menjadi DME di Muara Enim, Sumatera Selatan, kini menjadi fokus utama pemerintah. Groundbreaking proyek tersebut dijadwalkan dimulai pada awal 2026 dan diharapkan menjadi tonggak awal transformasi energi rumah tangga nasional.
Pemerintah menilai keberhasilan program DME bukan hanya menyangkut pengganti LPG, tetapi juga bagian dari desain besar ketahanan energi nasional yang berbasis sumber daya domestik, efisiensi subsidi, dan penguatan industri hilirisasi Indonesia.
(C8N)
#senyuman08






