Crew 8 News
Kabupaten Solok,- Sebanyak 1.300 keluarga di Kabupaten Solok secara sukarela mengundurkan diri sebagai penerima bantuan sosial (bansos) hingga Mei 2026. Fenomena yang disebut sebagai “graduasi mandiri” itu dinilai tidak hanya mencerminkan meningkatnya kesadaran sosial masyarakat, tetapi juga membantu pemerintah daerah dalam memperbarui data kemiskinan agar lebih akurat dan tepat sasaran.
Pengunduran diri massal tersebut terjadi setelah Pemerintah Kabupaten Solok menerapkan program labelisasi rumah penerima bansos melalui pemasangan stiker sebagai bentuk transparansi dan validasi data di lapangan.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Solok, Ir. Desmalia Ramadhanur, mengatakan langkah warga yang secara sukarela keluar dari daftar penerima bantuan memberikan dampak positif terhadap proses pemutakhiran data dalam Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG).
Menurutnya, selama ini masih ditemukan penerima bantuan yang kondisi ekonominya telah membaik namun belum terhapus dari basis data sosial pemerintah. Dengan adanya pengunduran diri sukarela tersebut, pemerintah dapat melakukan penyesuaian data secara lebih objektif dan akurat.
“Ketika masyarakat yang sudah mampu secara sukarela mengundurkan diri, maka ruang bantuan bisa diberikan kepada warga lain yang lebih membutuhkan. Ini membantu proses pemutakhiran data menjadi lebih tepat sasaran,” ujarnya.
Desmalia menegaskan bahwa program labelisasi bukan bertujuan mempermalukan masyarakat penerima bantuan, melainkan sebagai instrumen keterbukaan data sosial agar bantuan benar-benar diterima oleh warga yang layak.
Ia menyebut, banyak warga memilih mundur karena merasa sudah mampu memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri tanpa bantuan pemerintah. Langkah tersebut dinilai sebagai indikator meningkatnya kemandirian ekonomi masyarakat di Kabupaten Solok.
Bupati Solok, Jon Firman Pandu, sebelumnya juga menegaskan bahwa masyarakat Kabupaten Solok memiliki hak untuk hidup sejahtera dan mempunyai kepercayaan diri yang kuat untuk keluar dari persoalan kemiskinan. Menurutnya, mundurnya 1.300 penerima bansos menjadi bukti nyata bahwa masyarakat mulai berani mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan pemerintah.
“Masyarakat Kabupaten Solok berhak sejahtera, dan masyarakat Kabupaten Solok punya kepercayaan diri yang kuat untuk keluar dari masalah kemiskinan. Alhamdulillah, 1.300 orang menjadi bukti,” ujarnya.
Dinas Sosial Kabupaten Solok juga menekankan pentingnya peran pemerintah nagari, pendamping sosial, dan operator SIKS-NG dalam melakukan pembaruan data kemiskinan secara berkala. Pemerintah nagari disebut menjadi ujung tombak dalam memastikan perubahan kondisi ekonomi masyarakat dapat segera tercatat dalam sistem.
Selain itu, Dinsos terus melakukan sinkronisasi data bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Solok guna menjaga validitas data kemiskinan dan penerima bantuan sosial di daerah tersebut.
Wakil Bupati Solok, Candra, sebelumnya juga mengapresiasi langkah warga yang secara sukarela mengundurkan diri dari kepesertaan bansos. Menurutnya, transparansi data melalui program labelisasi rumah penerima bantuan menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berlaku jujur terkait kondisi ekonomi mereka.
Pemerintah daerah berharap fenomena graduasi mandiri tersebut dapat menjadi contoh dalam perbaikan tata kelola bantuan sosial yang lebih transparan, adaptif, dan berkeadilan, sekaligus memastikan program pengentasan kemiskinan benar-benar menyasar masyarakat yang paling membutuhkan.
(C8N)
#senyuman08






