Solok, Crew 8 News,– Upaya pembenahan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang saat ini dilakukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dinilai tidak hanya penting untuk menjamin kualitas dan keamanan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga harus menyentuh aspek keselamatan kerja bagi para personel dan relawan yang setiap hari bertugas di dapur pelayanan gizi.
Perhatian terhadap aspek keselamatan kerja mencuat setelah terjadinya kecelakaan kerja yang menimpa seorang relawan di salah satu dapur SPPG di Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Dapur tersebut berada di kawasan Alahan Panjang, tepatnya di depan SDN 08 Alahan Panjang dan berdekatan dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) serta Kantor Camat Lembah Gumanti.
Kepala Regional BGN Sumatera Barat, R. Ikhsan, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, insiden itu terjadi saat aktivitas operasional dapur berlangsung dan diduga dipicu oleh semburan api dari oven yang digunakan dalam proses produksi makanan.
“Benar terjadi di salah satu SPPG yang ada di Kecamatan Lembah Gumanti. Hal tersebut memang merupakan kecelakaan kerja. Penyebab awal yang kami terima berasal dari api oven yang tiba-tiba keluar dan mengeluarkan semburan api,” kata Ikhsan kepada JMG, Sabtu (6/6).
Ia menjelaskan, korban langsung mendapatkan penanganan setelah kejadian dan segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk memperoleh perawatan medis.
“Pasca kejadian tadi malam, korban langsung dilarikan ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut,” ujarnya.
Meski demikian, BGN masih melakukan evaluasi dan penelusuran lebih lanjut guna mengetahui penyebab pasti insiden tersebut. Pihaknya belum menyimpulkan apakah kejadian dipicu oleh faktor teknis peralatan, prosedur operasional, atau faktor lainnya.
“Saat ini kami masih menunggu hasil pemeriksaan mengenai penyebab pasti kenapa hal tersebut bisa terjadi,” tambahnya.
Ikhsan menegaskan bahwa kejadian tersebut telah menjadi perhatian serius BGN. Instruksi penguatan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) telah disampaikan kepada seluruh pengelola SPPG, termasuk kepada personel dan relawan yang bertugas di lapangan.
“Hal ini sudah kami tekankan kepada seluruh petugas yang ada di SPPG, termasuk kepada personel relawan di dapur tersebut. Tentunya kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi seluruh SPPG dalam menjalankan SOP yang telah ditetapkan,” tegasnya.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah langkah besar yang sedang dilakukan BGN untuk memperketat pengawasan terhadap operasional dapur MBG di seluruh Indonesia. Sebelumnya, BGN telah melakukan evaluasi terhadap ribuan dapur SPPG dan menghentikan sementara sejumlah dapur yang tidak memenuhi standar higiene, sanitasi, dan kelayakan operasional.
Langkah tersebut diambil sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas makanan dan mencegah terjadinya kasus keracunan yang sempat menjadi sorotan publik di sejumlah daerah. Namun, insiden di Lembah Gumanti menunjukkan bahwa tantangan Program MBG tidak hanya berkaitan dengan keamanan pangan, tetapi juga menyangkut keselamatan para petugas yang berada di balik proses penyediaan makanan.
Setiap hari, ribuan personel dan relawan SPPG bekerja dengan berbagai peralatan berisiko tinggi, mulai dari oven industri, kompor bertekanan tinggi, tabung gas, instalasi listrik, hingga peralatan pemotong dan pengolahan makanan berskala besar. Kondisi tersebut menuntut penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja yang ketat agar risiko kecelakaan dapat diminimalkan.
Sejumlah kalangan menilai pembenahan SPPG harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada kualitas makanan yang disajikan kepada penerima manfaat, tetapi juga pada keamanan lingkungan kerja. Pemeriksaan berkala terhadap peralatan dapur, pelatihan keselamatan kerja, ketersediaan alat pemadam kebakaran, prosedur tanggap darurat, serta perlindungan bagi relawan dan tenaga dapur dinilai perlu menjadi bagian integral dari sistem operasional SPPG.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program strategis nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Karena itu, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang tersalurkan, tetapi juga dari kemampuan sistem dalam menjaga keamanan pangan sekaligus menjamin keselamatan para personel yang menjalankan program tersebut.
Insiden di SPPG Lembah Gumanti kini menjadi pengingat bahwa di tengah ancaman keracunan makanan yang terus diantisipasi pemerintah, terdapat pula risiko keselamatan kerja yang tidak boleh dianggap sepele. Evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional dan sistem keselamatan di seluruh dapur MBG diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan program sekaligus memberikan perlindungan yang layak bagi para relawan dan petugas yang menjadi ujung tombak pelayanan gizi nasional.
(C8N)
#senyuman08






