CREW 8 NEWS | JAKARTA
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Asta Cita Indonesia, Hasbi, mendorong percepatan transformasi menuju ekosistem konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab untuk menghadapi ancaman perubahan iklim serta menjaga keberlanjutan pembangunan ekonomi nasional.
Dorongan tersebut disampaikan Hasbi saat membuka Webinar Nasional Seri ke-9 Forum Asta Cita Indonesia, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema Ekosistem Konsumen dan Produksi yang Bertanggung Jawab terhadap Dampak Ekologis Pemanasan Global.
Dalam pidato pembukaannya, Hasbi menekankan pentingnya perubahan pola ekonomi konvensional yang bertumpu pada prinsip mengambil, memproduksi, dan membuang (take, make, dispose) menuju sistem ekonomi sirkular yang lebih efisien dalam penggunaan sumber daya dan mampu mengurangi dampak lingkungan.
Menurutnya, perubahan iklim tidak hanya menjadi persoalan ekologis, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketahanan pangan, energi, dan air, merusak kawasan pesisir, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat.
Karena itu, transformasi pola konsumsi dan produksi dinilai menjadi bagian penting dalam memastikan pembangunan ekonomi berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan pencapaian visi Indonesia Emas.
Tiga Hambatan Struktural
Dalam kajian strategis yang dipaparkan, Forum Asta Cita Indonesia mengidentifikasi tiga hambatan utama dalam membangun ekosistem konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Pertama, rendahnya literasi konsumen mengenai produk ramah lingkungan. Persoalan ini berkaitan dengan ketimpangan informasi antara produsen dan konsumen, termasuk praktik greenwashing atau klaim ramah lingkungan yang berpotensi menyesatkan masyarakat.
Kedua, tingginya beban investasi untuk mengadopsi teknologi hijau. Industri lokal, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dinilai masih menghadapi tantangan dalam memperoleh akses pembiayaan dan insentif untuk beralih ke teknologi yang lebih ramah lingkungan.
Ketiga, belum optimalnya pelaksanaan regulasi yang mendorong perubahan perilaku industri. Forum menyoroti pentingnya harmonisasi kebijakan insentif dan disinsentif, termasuk penguatan instrumen pajak karbon yang terintegrasi.
Ketiga persoalan tersebut dinilai membutuhkan langkah bersama pemerintah, pelaku usaha, industri, dan masyarakat agar transisi menuju ekonomi hijau tidak berhenti pada komitmen, tetapi diwujudkan dalam kebijakan dan praktik nyata.
Pemerintah Pusat dan Daerah Didorong Perkuat Kebijakan Hijau
Untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut, Forum Asta Cita Indonesia menawarkan sejumlah rekomendasi strategis bagi pemerintah pusat dan daerah.
Salah satunya adalah mempercepat penerapan tanggung jawab produsen yang diperluas atau Extended Producer Responsibility (EPR), serta memperluas pengadaan barang dan jasa ramah lingkungan (green procurement) dalam belanja pemerintah.
Forum juga mendorong penyediaan insentif bagi industri yang menerapkan prinsip ekonomi sirkular serta perluasan akses terhadap pembiayaan hijau dengan biaya terjangkau.
Sementara itu, dunia usaha dan industri didorong menerapkan audit energi secara berkala, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, serta mengembangkan kemasan sirkular untuk menekan emisi dari kegiatan operasional.
Transformasi ekonomi hijau, menurut rekomendasi Forum, juga perlu membuka peluang pekerjaan baru berbasis lingkungan atau green jobs, termasuk melalui pengembangan industri daur ulang yang dapat menyerap tenaga kerja lokal.
Pada tingkat masyarakat, edukasi mengenai gaya hidup berkelanjutan perlu diperluas. Konsumen didorong memilih produk dengan sertifikasi ekolabel resmi serta membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.
Peta Jalan Menuju Indonesia Emas
Forum Asta Cita Indonesia mengusulkan agar transformasi ekonomi hijau dilaksanakan secara bertahap melalui sasaran jangka pendek, menengah, dan panjang.
Dalam jangka pendek, yakni satu hingga dua tahun, fokus diarahkan pada sosialisasi standar sertifikasi hijau, peningkatan literasi konsumen, serta uji coba pengadaan hijau di sejumlah wilayah percontohan.
Untuk jangka menengah, dalam tiga hingga lima tahun, Forum mendorong pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor manufaktur melalui integrasi teknologi hijau serta perluasan penerapan instrumen pajak dan perdagangan karbon.
Adapun dalam jangka panjang, agenda tersebut diarahkan pada terbentuknya struktur ekonomi nasional yang tangguh, sirkular, dan mandiri, sekaligus mendukung pencapaian target emisi nol bersih atau Net Zero Emission nasional.
Hasbi dalam pidato tersebut juga mengaitkan pengembangan ekosistem konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab dengan agenda pembangunan nasional, khususnya penguatan ketahanan dan kemandirian pangan, energi, dan air, serta pengembangan ekonomi hijau dan hilirisasi industri yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Forum Asta Cita Indonesia menyatakan kesiapan untuk mengawal, mengkaji, dan mendorong implementasi peta jalan ekonomi hijau melalui kolaborasi lintas sektor.
Transformasi konsumsi dan produksi, sebagaimana ditekankan dalam pidato tersebut, merupakan bagian penting dari upaya membangun perekonomian yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga memperhatikan daya dukung lingkungan dan hak generasi mendatang.
(C8N)
#senyuman08






