Padang, Crew8 News,- Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam BEM KM Universitas Adzkia ikut ambil bagian dalam aksi demonstrasi memperingati Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional di Kantor Gubernur Sumatera Barat, Senin (2/5).
Aksi yang melibatkan mahasiswa lintas kampus se-Sumatera Barat ini dimulai sekitar pukul 14.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 18.00 WIB. Massa aksi menyuarakan berbagai tuntutan mulai dari isu kesejahteraan buruh, persoalan pendidikan, hingga pembangunan infrastruktur dan dinamika sosial di daerah.
Dari Universitas Adzkia, aksi dipimpin oleh Wakil Presiden Mahasiswa Dandi bersama Satria Perdana selaku Menteri Luar Negeri BEM KM Adzkia yang bertindak sebagai penanggung jawab massa aksi.
Dalam orasinya, mahasiswa menegaskan bahwa aksi tersebut bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan bentuk kekecewaan dan kemarahan atas berbagai persoalan yang dinilai belum ditangani secara serius oleh pemerintah provinsi.
“Ini bukan ajang membanggakan diri di depan publik, tetapi bentuk kemarahan mahasiswa atas permasalahan yang terjadi di Sumatera Barat, mulai dari buruh yang memperjuangkan hak hidup layak hingga persoalan pendidikan dan infrastruktur,” ujar Satria Perdana.
Selama aksi berlangsung, mahasiswa melakukan orasi secara bergantian di tengah kondisi cuaca yang berubah-ubah, dari terik matahari hingga hujan. Situasi sempat memanas ketika massa menuntut agar Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat keluar menemui mereka.
Namun hingga aksi berakhir, kedua pimpinan daerah tersebut tidak kunjung menemui massa. Hal ini memicu ketegangan antara mahasiswa dan aparat kepolisian yang berjaga di lokasi.
Aksi dorong-dorongan sempat terjadi ketika massa mencoba masuk ke area kantor gubernur. Dalam insiden tersebut, satu orang peserta aksi dilaporkan pingsan akibat kelelahan.
Mahasiswa juga menuding adanya upaya pengulur-uluran waktu oleh pihak di dalam kantor gubernur, yang semakin memicu kemarahan massa aksi.
Satria Perdana menyayangkan sikap pimpinan daerah yang tidak bersedia menemui mahasiswa, meski mereka datang sebagai representasi masyarakat.
“Kami datang sebagai rakyat Sumatera Barat yang memberikan mandat kepada mereka. Sangat disayangkan sebagai pelayan publik, mereka tidak mau menemui kami, padahal banyak persoalan yang terjadi di daerah ini,” tegasnya.
Ia menambahkan, aksi ini merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang sehat, di mana mahasiswa menjalankan fungsi kontrol terhadap jalannya pemerintahan. Namun, ketiadaan respons langsung dari pemerintah dinilai menjadi catatan penting.
Meski tuntutan belum tersampaikan secara langsung kepada pimpinan daerah, mahasiswa memastikan aksi tidak akan berhenti. Mereka berencana menggelar aksi lanjutan dalam waktu dekat.
“Aksi ini akan terus berlanjut sampai tuntutan yang kami bawa benar-benar sampai kepada gubernur dan wakil gubernur, serta menjadi perhatian serius bagi pemerintah provinsi,” tutup Satria.
(C8N)
#senyuman08






