Crew8 News
Padang (15 / 11),- Praktisi hukum Mevrizal SH MH meminta Pemerintah Kabupaten Solok membuka seluruh data dan menghadirkan ahli dalam sosialisasi panas bumi, agar masyarakat memahami proses dan dampaknya secara ilmiah, bukan berdasarkan isu yang menyesatkan.
Beredarnya video pertemuan Bupati Solok Jon Firman Pandu bersama masyarakat Batu Bajanjang kembali memanaskan diskusi publik mengenai rencana pengembangan energi panas bumi (geothermal) di wilayah tersebut. Sebagian warga masih menyatakan penolakan, sementara pemerintah daerah menilai rencana ini sebagai peluang strategis untuk pembangunan jangka panjang.
Di tengah perdebatan itu, praktisi hukum Mevrizal SH MH angkat bicara. Ia mengajak Pemerintah Kabupaten Solok untuk lebih transparan dalam menyampaikan informasi, serta menghadirkan para ahli yang kompeten dalam setiap proses sosialisasi kepada masyarakat. Menurutnya, polemik yang terjadi selama ini sebagian besar dipicu oleh ketidakpahaman dan beredarnya berbagai isu yang tidak terverifikasi.
“Sosialisasi geothermal harus dilakukan secara ilmiah dan terbuka. Masyarakat berhak memahami apa itu geothermal, bagaimana prosesnya, apa dampaknya, dan bagaimana mitigasinya. Jangan sampai peluang besar ini hilang hanya karena misinformasi,” ujar Mevrizal.
Ia menyoroti bahwa kebijakan nasional saat ini menempatkan energi hijau, termasuk geothermal, sebagai sektor prioritas menuju keberlanjutan. Tidak semua daerah di Indonesia memiliki potensi panas bumi, dan Kabupaten Solok merupakan salah satu wilayah yang dianugerahi sumber daya tersebut.
“Ini peluang langka. Sangat sedikit daerah di Indonesia yang punya cadangan panas bumi sebesar Solok. Maka yang harus dilakukan adalah membuka data dan mengedukasi masyarakat, bukan membiarkan opini yang tidak berdasar berkembang terus,” tambahnya.
Mevrizal juga menyinggung kejadian viral pengeboran air dalam di Jawa Barat beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan bahwa meski teknologi pengeboran memiliki kemiripan, geothermal memiliki standar keselamatan yang lebih tinggi dan berada pada kedalaman yang jauh lebih ekstrem. Karena itulah, masyarakat perlu mendapatkan penjelasan langsung dari para ahli, bukan dari potongan informasi yang tidak lengkap.
“Solok punya pabrik air minum. Itu juga teknologi yang punya dampak lingkungan, tetapi masyarakat menerima karena paham prosesnya. Mengapa geothermal ditolak tanpa pemahaman yang sama? Padahal sama-sama menggunakan pendekatan teknologi,” tegasnya.
Ia juga mengajak publik melihat contoh dari Solok Selatan, daerah tetangga yang sudah lebih dahulu menikmati manfaat ekonomi dan peningkatan kesejahteraan dari pengelolaan geothermal. “Saudara serumpun kita di Solok Selatan sudah merasakan tambahan APBD, dampak ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat dari geothermal. Itu bukti bahwa program ini bisa berjalan baik jika dikelola transparan dan berorientasi pada masyarakat,” jelas Mevrizal.
Menurutnya, apa yang disampaikan Bupati Solok Jon Firman Pandu dalam pertemuan dengan masyarakat, yakni pentingnya transparansi dan keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan, merupakan dasar yang sudah tepat. Namun pelaksanaannya harus konsisten, terutama dalam menghadirkan informasi teknis yang bisa dipahami oleh warga.
“Intinya, mari kita buka ruang dialog yang jujur dan objektif. Hadirkan ahli, buka data, jelaskan risiko dan mitigasinya. Ketika masyarakat paham prosesnya, keputusan apa pun yang diambil akan jauh lebih bijak,” tutup Mevrizal.
(C8N
#senyuman08






