Ketum SEMMI Solok Soroti THKW, Alfi : Jangan Jadi Monumen Gagal Pembangunan

SOLOK, Crew8 News 3 Mei 2026,- Dorongan terhadap Pemerintah Kabupaten Solok untuk segera merampungkan dan mengoptimalkan Taman Hutan Kota Wisata (THKW) di Kayu Aro terus menguat. Kali ini, kritik datang dari Ketua Umum Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Kabupaten Solok, Alfi Rahman, yang menilai proyek tersebut belum menunjukkan keseriusan dalam implementasi meski telah masuk dalam agenda strategis kepala daerah.

Alfi, yang diketahui aktif menyuarakan berbagai isu publik di Kabupaten Solok, menegaskan bahwa THKW merupakan bagian penting dari janji politik Bupati Jon Firman Pandu dan Wakil Bupati Candra dalam mendorong sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah.

Menurutnya, jika tidak segera dituntaskan, keberadaan THKW justru berpotensi menjadi simbol kegagalan pengelolaan aset daerah.

THKW ini sudah terlalu lama berjalan tanpa arah yang jelas. Jangan sampai ini menjadi monumen kegagalan pembangunan yang terus diwariskan dari satu periode ke periode berikutnya,” tegas Alfi kepada wartawan.

Ia menilai bahwa secara konsep, pengembangan THKW sudah berada pada jalur yang tepat. Kawasan tersebut telah dimasukkan dalam visi misi pembangunan daerah, bahkan menjadi bagian dari program unggulan seperti “Solok Bersih” serta agenda aktivasi kawasan melalui event daerah.

Namun, Alfi menyoroti lemahnya konsistensi eksekusi di lapangan. Ia menilai berbagai rencana yang telah disusun belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi langkah konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Masalah kita bukan kekurangan konsep, tapi kekurangan keberanian dalam mengeksekusi. Banyak program bagus, tapi tidak berjalan maksimal karena lemahnya koordinasi dan pengawasan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa THKW seharusnya tidak hanya diposisikan sebagai ruang terbuka hijau, tetapi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menggerakkan sektor UMKM, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Alfi juga menyoroti pentingnya integrasi THKW dengan agenda pariwisata daerah, seperti festival tahunan dan kegiatan budaya, agar kawasan tersebut memiliki daya tarik yang berkelanjutan.

Kalau hanya dibangun tanpa aktivitas, itu tidak akan hidup. Harus ada integrasi dengan event, budaya, dan ekonomi masyarakat. Itu yang akan membuat THKW benar-benar menjadi destinasi,” katanya.

Selain itu, ia mendorong Pemerintah Kabupaten Solok untuk segera mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung yang selama ini menjadi kendala utama dalam pengembangan kawasan tersebut. Infrastruktur, menurutnya, menjadi kunci untuk menarik investor maupun wisatawan.

Dalam konteks keterbatasan anggaran daerah,Alfi tidak menolak skema kemitraan dengan pihak swasta. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tetap mengedepankan prinsip transparansi dan tidak mengorbankan kepentingan publik.

Kami mendukung investasi, tapi harus jelas skemanya. Jangan sampai aset daerah dikelola tanpa kontrol yang kuat. Pemerintah harus hadir sebagai regulator yang tegas,” ujarnya.

Sebagai organisasi kepemudaan, SEMMI Kabupaten Solok, lanjutnya, akan terus mengawal kebijakan publik, termasuk pengembangan THKW, agar tetap berada pada jalur kepentingan masyarakat.

Ia bahkan mendorong adanya roadmap yang jelas dan terukur terkait penyelesaian proyek tersebut, termasuk target waktu dan indikator keberhasilan yang bisa dievaluasi secara berkala.

Kalau pemerintah serius, buat timeline yang jelas. Kapan selesai, apa indikatornya, dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat. Itu yang harus disampaikan secara terbuka,” katanya.

Sementara itu, di sisi pemerintah daerah, pengembangan THKW memang telah diproyeksikan sebagai bagian dari transformasi sektor pariwisata Kabupaten Solok. Kawasan ini diharapkan menjadi destinasi unggulan yang terintegrasi dengan pembangunan infrastruktur dan penguatan ekonomi lokal.

Pemanfaatannya sebagai lokasi kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Solok ke-113 pada April 2026 menjadi salah satu langkah awal aktivasi kawasan. Namun, publik menilai langkah tersebut masih perlu diikuti dengan pembangunan yang lebih substansial.

Sejumlah pelaku usaha dan masyarakat sekitar juga berharap agar proyek tersebut segera dituntaskan dan tidak lagi menjadi kawasan yang setengah jadi.

Dengan semakin kuatnya dorongan dari berbagai elemen, termasuk mahasiswa, pengamat, dan masyarakat, pengembangan THKW kini menjadi salah satu ujian utama bagi kepemimpinan daerah dalam merealisasikan janji kampanye mereka.

Apakah THKW akan benar-benar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru atau tetap menjadi proyek yang berjalan di tempat, sangat bergantung pada keseriusan dan keberanian pemerintah daerah dalam mengambil langkah konkret ke depan.

(C8N)

#senyuman08

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini