Crew 8 News
PADANG,- Ketua Advokasi Rakyat untuk Nusantara (ARUN) Sumatera Barat, Mevrizal SH MH, menilai ibadah kurban tidak hanya memiliki dimensi spiritual dalam ajaran Islam, tetapi juga mengandung fungsi sosial dan ekonomi yang kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurut Mevrizal, polemik mengenai bantuan hewan kurban Presiden yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) seharusnya tidak mengaburkan substansi utama Iduladha sebagai momentum berbagi dan memperkuat solidaritas sosial.
“Esensi qurban bukan hanya ritual ibadah semata, tetapi juga memiliki dimensi sosial-ekonomi yang nyata dalam kehidupan masyarakat dan konteks bernegara,” kata Mevrizal di Padang, Jumat 29/5.
Ia menjelaskan dalam perspektif agama, kurban merupakan simbol ketakwaan dan bentuk kepatuhan seorang hamba kepada Tuhan. Selain itu, ibadah kurban juga mengandung nilai keikhlasan, pengorbanan, dan penyucian diri dari sifat individualisme maupun kecintaan berlebihan terhadap materi.
Menurutnya, semangat kurban juga tidak bisa dilepaskan dari keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam menjalankan perintah Tuhan dengan penuh keimanan dan pengorbanan.
Namun dalam konteks kehidupan bernegara, kata Mevrizal, kurban memiliki dampak sosial yang luas karena menyentuh aspek pemerataan pangan, solidaritas masyarakat, hingga penguatan ekonomi rakyat.
“Daging qurban didistribusikan kepada masyarakat luas, terutama kelompok yang membutuhkan. Itu artinya ada fungsi pemerataan dan penguatan solidaritas sosial di sana,” ujarnya.
Ia menambahkan momentum Iduladha juga memberikan efek ekonomi langsung terhadap peternak lokal karena meningkatnya permintaan hewan ternak di berbagai daerah.
Menurut Mevrizal, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa ibadah kurban turut menggerakkan roda ekonomi masyarakat kecil, khususnya sektor peternakan rakyat.
“Secara ekonomi, qurban membantu peternak lokal dan menghidupkan perputaran ekonomi masyarakat. Bahkan dalam konteks tertentu, distribusi protein hewani melalui qurban juga membantu upaya penurunan stunting,” katanya.
Ia menilai negara memiliki kepentingan sosial untuk hadir dalam momentum keagamaan karena dampaknya tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, Mevrizal meminta publik tidak terjebak dalam perdebatan yang dinilainya tidak produktif terkait penggunaan dana Bantuan Kemasyarakatan Presiden (Banpres) untuk bantuan hewan kurban.
Menurutnya, program Banpres memang sejak lama digunakan untuk berbagai kebutuhan sosial kemasyarakatan, termasuk bantuan keagamaan, bantuan rumah ibadah, bantuan kebencanaan, kegiatan kemanusiaan, hingga dukungan fasilitas publik.
“Jangan ditarik-tarik ke penafsiran yang tidak perlu. Konteksnya jelas, negara hadir dalam momentum sosial dan keagamaan masyarakat,” ujarnya.
Secara hukum, penggunaan anggaran tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara serta pengalokasian dalam Undang-Undang APBN Tahun Berjalan yang berada dalam pengelolaan Kementerian Sekretariat Negara.
Mevrizal juga mengajak masyarakat menjaga suasana Iduladha tetap sejuk dan penuh semangat kebersamaan.
“Mari kita melihat Iduladha sebagai momentum memperkuat persaudaraan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi antar sesama,” katanya.
(C8N)
#senyuman08






