Galodo Arosuka dan Ancaman Tata Ruang: Membaca Topografi serta Karakter Tanah di Kawasan Perkantoran Kabupaten Solok

CREW 8 NEWS | AROSUKA

Bencana galodo yang melanda kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, kembali membuka perhatian terhadap kondisi geografis kawasan yang menjadi pusat pemerintahan daerah. Selain persoalan curah hujan dan material longsoran, karakter topografi serta jenis tanah dinilai perlu menjadi bagian penting dalam evaluasi tata ruang dan pembangunan kawasan perkantoran.

Analisis tersebut disampaikan Zulvarita Syaf, S.P, sarjana pertanian lulusan Universitas Eka Sakti, Jurusan Ilmu Tanah. Menurutnya, kawasan Arosuka secara topografi merupakan daerah lembah yang relatif sempit di kaki Gunung Talang dengan ketinggian sekitar 400–600 meter di atas permukaan laut.

“Arosuka adalah daerah lembah sempit di kaki Gunung Talang,” ujar Zulvarita.

Ia menjelaskan, kawasan tersebut berada di antara Gunung Talang di sebelah barat dan kawasan perbukitan Bukit Barisan atau Gunung Rasan di sebelah timur. Bentuk lembah memanjang dari utara ke selatan dan dilalui sejumlah aliran sungai, termasuk Batang Lembang serta Batang Barus atau Batang Laso.

Kondisi tersebut, menurut dia, membuat karakter kawasan perlu diperhitungkan secara serius dalam pembangunan maupun penataan kembali kawasan pascabencana.

Lereng curam di sekitar kawasan perkantoran

Zulvarita menyebut kawasan sekitar kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok memiliki kemiringan lereng sekitar 15 hingga 40 persen. Sementara itu, pada kawasan perbukitan di belakang kompleks perkantoran terdapat kemiringan yang menurutnya dapat mencapai lebih dari 40 persen.

Kondisi menjadi lebih berisiko ketika kawasan dengan kemiringan tinggi mengalami perubahan tutupan lahan.

Menurut Zulvarita, sebagian kawasan perbukitan telah dimanfaatkan untuk aktivitas pertanian, termasuk perkebunan sayuran. Perubahan tutupan lahan tersebut dapat memengaruhi kemampuan tanah dalam menahan dan menyerap air hujan.

“Perbukitan terjal di belakang kantor bupati dengan kemiringan besar dari 40 persen sudah gundul dan banyak kebun sayur. Ini merupakan sumber longsor yang sewaktu-waktu bisa menghantam,” katanya.

Karakter tanah Arosuka

Dari sisi ilmu tanah, Zulvarita mengidentifikasi beberapa jenis tanah di kawasan Arosuka.

Ia menyebut Andosol sebagai jenis tanah yang dominan, terutama di kawasan Kayu Aro, Gunung Talang dan sekitar kompleks perkantoran. Tanah ini terbentuk dari material vulkanik dan dikenal memiliki karakter gembur serta kandungan bahan organik yang tinggi ketika kondisinya masih baik.

Selain Andosol, terdapat pula Inseptisol pada kawasan peralihan lereng menuju dataran Arosuka. Sementara di dataran sekitar aliran sungai, terdapat tanah yang berasal dari material endapan sungai berupa pasir, lumpur dan kerikil.

Menurut dia, karakter tanah tersebut penting diperhitungkan karena kemampuan tanah dalam menyerap air sekaligus mempertahankan kestabilannya akan sangat dipengaruhi oleh kondisi lereng, tutupan vegetasi dan intensitas hujan.

Pada kondisi hujan dengan intensitas tinggi, tanah yang telah jenuh air dapat mengalami perubahan karakter dan kehilangan sebagian kekuatannya. Pada lereng curam, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko longsor.

Bukan hanya persoalan hujan

Zulvarita menilai bencana galodo tidak semata-mata dapat dilihat sebagai persoalan tingginya curah hujan. Menurutnya, hujan merupakan salah satu faktor pemicu, sementara kondisi bentang alam, kemiringan lereng, karakter tanah dan perubahan tutupan lahan ikut menentukan tingkat kerentanan suatu kawasan.

Ia menjelaskan, tanah Andosol memiliki porositas tinggi dan mampu menyimpan air dalam jumlah besar. Namun ketika jenuh, terutama pada lereng yang curam, kondisi tersebut harus diperhatikan karena dapat memengaruhi kestabilan lereng.

“Tanah Andosol itu ringan dan gembur. Ketika hujan lebat dan jenuh air, tanah bisa menjadi sangat lunak. Kalau berada pada kelerengan besar, risikonya harus diperhitungkan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa pembukaan lahan secara terus-menerus tanpa konservasi tanah dapat mengurangi kandungan bahan organik. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi struktur dan kemampuan tanah dalam menahan erosi.

Kawasan Arosuka perlu pendekatan mitigasi berbasis bentang alam

Menurut Zulvarita, apabila kawasan Arosuka tetap dikembangkan sebagai kawasan perkantoran, pembangunan tidak cukup hanya memperhitungkan konstruksi bangunan. Kajian tanah, geologi, hidrologi dan kondisi lereng perlu dilakukan secara menyeluruh.

Ia menyarankan pemeriksaan kondisi tanah melalui boring dan pengujian Standard Penetration Test (SPT) pada beberapa titik. Pengujian laboratorium juga diperlukan untuk mengetahui kadar air, berat jenis, serta parameter kekuatan geser tanah.

Langkah tersebut diperlukan agar pembangunan tidak hanya bertumpu pada kondisi permukaan, tetapi juga mengetahui karakter lapisan tanah di bawahnya.

Untuk bangunan yang berada pada tanah dengan kondisi kurang stabil, menurutnya pondasi harus dirancang berdasarkan hasil penyelidikan tanah dan mencapai lapisan yang memiliki daya dukung memadai.

Lereng harus diperkuat

Selain konstruksi bangunan, penguatan lereng juga dinilai penting.

Zulvarita menyarankan pembangunan sistem terasering atau bench pada lereng, dilengkapi drainase pada setiap tingkat. Pada lokasi tertentu, konstruksi retaining wall atau dinding penahan tanah dapat dipertimbangkan berdasarkan hasil kajian teknis.

Sistem drainase pada dinding penahan tanah juga harus dirancang agar tekanan air tidak terakumulasi di belakang konstruksi.

Pada alur sungai, ia menyarankan penggunaan struktur pengendali seperti bronjong dan bangunan pengendali sedimen sesuai kebutuhan dan hasil kajian teknis.

Di sisi lain, vegetasi juga dinilai memiliki fungsi penting dalam konservasi lereng.

Ia menyarankan kawasan rawan longsor tidak hanya ditanami tanaman hortikultura berumur pendek, tetapi diperkuat dengan vegetasi yang memiliki sistem perakaran lebih baik dalam mengikat tanah. Tanaman seperti vetiver, suren, pinus dan kopi disebut sebagai contoh yang dapat dipertimbangkan sesuai kesesuaian lahannya.

Drainase hulu menjadi kunci

Salah satu hal yang paling ditekankan Zulvarita adalah pengelolaan air.

Menurutnya, kawasan perkantoran harus memiliki sistem drainase yang mampu mengendalikan aliran permukaan dari kawasan yang lebih tinggi.

“Drainase adalah yang paling penting. Air dari lereng harus dikendalikan sebelum masuk ke kawasan perkantoran,” ujarnya.

Ia mengusulkan pembangunan catch drain atau saluran pengarah di bagian atas kawasan perkantoran untuk memotong aliran air dari lereng sebelum mencapai kompleks bangunan.

Selain itu, bangunan pengendali sedimen seperti sabo dam atau check dam dapat dipertimbangkan pada bagian hulu sungai yang membawa material longsoran, dengan desain berdasarkan kajian hidrologi dan sedimentasi.

Jalur sungai purba harus menjadi perhatian

Zulvarita juga mengingatkan pentingnya mengenali jalur aliran air lama atau jalur yang secara geomorfologis berpotensi menjadi lintasan material ketika terjadi banjir bandang atau galodo.

Karena itu, menurut dia, pembangunan tidak seharusnya hanya berpatokan pada posisi sungai yang terlihat saat ini.

“Kita harus melihat jalur galodo dan sungai purba. Jangan sampai bangunan berada pada jalur yang secara alamiah menjadi tempat lewatnya material,” katanya.

Ia menyarankan adanya jarak aman dari badan sungai. Namun, menurutnya, angka jarak tersebut harus disesuaikan dengan hasil kajian sempadan sungai, hidrologi, morfologi sungai dan potensi aliran material di masing-masing lokasi.

Jangan menjadikan bencana sebagai siklus berulang

Galodo Arosuka, menurut Zulvarita, seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali tata ruang kawasan.

Evaluasi tersebut tidak hanya menyangkut apakah sebuah bangunan aman berdiri, tetapi juga apakah lokasi tersebut aman dalam konteks bentang alam secara keseluruhan.

“Kita jangan hanya memperbaiki bangunan setelah bencana. Yang harus diperbaiki adalah sistemnya, mulai dari lereng, tata air, tutupan lahan sampai tata ruang,” katanya.

Ia juga menyarankan agar halaman kawasan perkantoran tidak seluruhnya menggunakan permukaan kedap air. Penggunaan material berpori seperti paving block dapat menjadi salah satu pilihan, sepanjang tetap sesuai dengan desain drainase dan kajian teknis kawasan.

Pada akhirnya, Zulvarita menilai Arosuka membutuhkan pendekatan pembangunan yang lebih berbasis pada karakter alam.

Bencana galodo menjadi pengingat bahwa pembangunan kawasan pemerintahan tidak dapat dipisahkan dari kondisi gunung, lereng, sungai, tanah dan pola aliran air.

Dengan demikian, menurutnya, setiap rencana pembangunan dan rehabilitasi kawasan Arosuka perlu didahului kajian multidisiplin agar upaya pemulihan pascabencana tidak sekadar mengembalikan kondisi seperti sebelum bencana, tetapi sekaligus mengurangi risiko terulangnya bencana serupa di masa mendatang.

Penulis: Zulvarita Syaf, S.P.

Tamatan Universitas Eka Sakti, Jurusan Ilmu Tanah

(C8N)

#senyuman08

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini