KADIN Kabupaten Solok Siap Jadi Jembatan Investasi Menuju Solok Zero Waste

CREW 8 NEWS| Kabupaten Solok

Rencana Pemerintah Kabupaten Solok untuk mengkaji keterlibatan pihak swasta dan investor dalam pengelolaan sampah mendapat sambutan positif dari kalangan dunia usaha. Sebelumnya, Sekretaris Daerah Kabupaten Solok Jefrizal menegaskan bahwa Program Solok Bersih tetap menjadi prioritas pemerintah daerah dan akan dijalankan secara konsisten serta berkelanjutan.

Di tengah keterbatasan anggaran, Pemkab Solok tengah menyiapkan berbagai langkah, mulai dari penguatan budaya gotong royong, program Jumat Bersih, penilaian kebersihan antar-OPD, hingga penyusunan kajian komprehensif untuk membuka peluang investasi di sektor pengelolaan sampah menuju konsep Zero Waste.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Solok, Dr. Frinsis Warmansyah, ST, MT, Datuak Paduko Rajolelo, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah pemerintah daerah tersebut.

Menurut Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Padang (UNP) itu, persoalan sampah saat ini tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan kebersihan, tetapi harus ditempatkan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau.

“Prinsip lingkungan itu adalah keberlanjutan. Kita harus memikirkan keseimbangan ekosistem, baik aspek abiotik, biotik maupun budaya,” ujar Frinsis kepada MONITORS.

Ia menjelaskan, aspek abiotik berkaitan dengan kualitas tanah, air, udara, dan iklim yang harus dijaga dari pencemaran. Sementara aspek biotik menyangkut keberlangsungan manusia, flora, dan fauna sebagai bagian dari ekosistem. Sedangkan aspek budaya berkaitan dengan perilaku dan nilai-nilai masyarakat dalam memperlakukan lingkungan.

Menurut Frinsis, keberhasilan Program Solok Bersih dan konsep Zero Waste pada akhirnya sangat ditentukan oleh perubahan budaya masyarakat dalam mengurangi, memilah, dan mengelola sampah.

Dengan estimasi produksi sampah mencapai sekitar 160 ton per hari, Kabupaten Solok dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri hijau berbasis persampahan.

“Sampah seharusnya tidak lagi dipandang sebagai beban daerah, tetapi sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan teknologi dan sistem yang tepat,” katanya.

Frinsis menjelaskan bahwa konsep Zero Waste bukan berarti tidak ada sampah sama sekali, melainkan membangun sistem yang mampu meminimalkan sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir melalui pengurangan, pemilahan, pemanfaatan kembali, daur ulang, dan pengolahan menjadi produk bernilai tambah.

Ia menilai Kabupaten Solok memiliki peluang untuk mengembangkan berbagai model investasi, mulai dari pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) modern, pengolahan sampah organik menjadi kompos dan biogas untuk mendukung sektor pertanian, pengembangan Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif industri, hingga penguatan bank sampah dan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.

Frinsis juga mencontohkan sejumlah model kerja sama yang telah berjalan di berbagai daerah, seperti kolaborasi Kadin Jawa Barat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Konsorsium Sumitomo Jepang dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka, pengembangan RDF di Kota Tangerang, serta berbagai proyek pengolahan sampah berbasis investasi di Kabupaten Bekasi dan Jawa Timur.

Menurutnya, berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah dapat diubah menjadi peluang investasi dan sumber pertumbuhan ekonomi baru apabila didukung regulasi, kepastian kebijakan, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan.

“KADIN Kabupaten Solok siap menjadi jembatan investasi (investment hub) dengan mempertemukan pemerintah daerah, investor, pelaku usaha, dan berbagai pihak terkait untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan,” tegasnya.

Ia menilai keterlibatan dunia usaha tidak hanya akan membantu mengurangi beban APBD dalam pengelolaan sampah, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja baru, peningkatan pendapatan masyarakat melalui ekonomi sirkular, serta memperkuat daya tarik investasi daerah.

Frinsis berharap kajian yang tengah disiapkan Pemerintah Kabupaten Solok dapat menghasilkan model pengelolaan sampah yang tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Jika dikelola dengan baik, Program Solok Bersih dapat berkembang menjadi gerakan pembangunan berbasis ekonomi hijau, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sumber daya yang mampu menciptakan kesejahteraan dan mendukung terwujudnya Kabupaten Solok yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

(C8N)

#senyuman08

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini