CREW 8 NEWS | SOLOK
Harapan pemulihan areal pertanian Kabupaten Solok yang terdampak bencana hidrometeorologi pada 2025 semakin di depan mata. Pemerintah Kabupaten Solok menghimpun dukungan program senilai Rp54,78 miliar yang bersumber dari APBN, Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik, dan APBD Kabupaten Solok Tahun Anggaran 2026.
Berdasarkan data program sektor pertanian Pemerintah Kabupaten Solok yang dipublikasikan pada 28 Agustus 2026, total dukungan tersebut tercatat sebesar Rp54.787.872.924. Anggaran diarahkan untuk pemulihan sawah, optimasi lahan, penguatan irigasi, pembangunan jalan usaha tani, fasilitas pascapanen, dan pengembangan komoditas pertanian.
Salah satu program utama adalah optimasi sawah terdampak bencana seluas 1.247 hektare dengan dukungan APBN sekitar Rp5,73 miliar. Selain itu, rehabilitasi diarahkan terhadap 253 hektare sawah dengan anggaran sekitar Rp3,41 miliar.
Pemkab Solok juga memperoleh dukungan APBN sekitar Rp23,39 miliar untuk program optimasi lahan nonrawa seluas 5.086 hektare. Program tersebut diharapkan dapat mempercepat pemulihan produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian.
Bupati Solok Jon Firman Pandu mengatakan pemerintah harus hadir membawa jalan keluar ketika petani menghadapi kesulitan, terutama setelah bencana merusak lahan dan sarana produksi.
“Ketika petani menghadapi kesulitan, pemerintah harus hadir membawa solusi, dari sawah yang terdampak, harapan kembali ditumbuhkan, dari irigasi yang diperkuat, produksi diharapkan meningkat, dari jalan usaha tani yang dibangun, akses petani semakin terbuka, dan dari fasilitas pascapanen, hasil pertanian diharapkan memiliki nilai tambah,” kata Jon Firman Pandu.
Pemulihan lahan dibarengi dengan penguatan sarana pengairan. Data Pemkab Solok mencatat program tersebut meliputi operasi dan pemeliharaan 15 unit jaringan irigasi tersier, pembangunan 33 unit irigasi perpipaan, serta 24 unit irigasi perpompaan dengan dukungan APBN.
Dukungan pemerintah pusat untuk pengairan pertanian Kabupaten Solok sebelumnya juga telah dikonfirmasi Direktur Irigasi Kementerian Pertanian Liferdi Lukman. Ia menyebut alokasi bantuan yang semula 13 unit ditingkatkan menjadi 74 unit setelah pelaksanaan tahap awal dinilai berjalan cepat dan baik.
Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting agar sawah yang telah dibersihkan dan direhabilitasi dapat kembali ditanami secara berkelanjutan. Pemerintah daerah juga diminta terus menyampaikan kebutuhan melalui Sistem Informasi Pengusulan Irigasi agar dapat diakomodasi dalam program nasional.
Dari APBD Kabupaten Solok, sekitar Rp1,07 miliar dialokasikan untuk pembangunan dan rehabilitasi 10 unit jaringan irigasi usaha tani. Pemerintah daerah juga menyiapkan sekitar Rp6,30 miliar untuk membangun dan merehabilitasi 52 unit jalan usaha tani.
Perbaikan akses tersebut diharapkan memudahkan petani membawa bibit, pupuk, dan alat produksi menuju lahan, sekaligus memperlancar pengangkutan hasil panen. Infrastruktur yang memadai juga penting untuk menekan biaya angkut serta mengurangi risiko kerusakan komoditas.
Dukungan tidak hanya diarahkan pada tahap produksi. Melalui DAK Fisik, sekitar Rp2,31 miliar dialokasikan untuk bangsal pascapanen bawang merah beserta sarana pendukung. Sekitar Rp4,17 miliar lainnya disiapkan untuk fasilitas pascapanen cabai. Pengembangan kentang seluas tiga hektare turut memperoleh dukungan APBD sekitar Rp94,95 juta.
Fasilitas pascapanen diharapkan membantu proses pengeringan, penyortiran, penyimpanan, dan penanganan komoditas. Dengan penanganan yang lebih baik, mutu hasil pertanian dapat dipertahankan, kehilangan hasil ditekan, dan nilai jual produk petani ditingkatkan.
Dukungan senilai Rp54,78 miliar tersebut mencerminkan akselerasi dan sinergi pemerintah pusat bersama Pemerintah Kabupaten Solok dalam mempercepat pemulihan sektor pertanian pascabencana. Kolaborasi pendanaan melalui APBN, DAK Fisik, dan APBD Kabupaten Solok diharapkan memastikan penanganan berlangsung menyeluruh, mulai dari pemulihan lahan dan penguatan irigasi hingga perbaikan akses produksi serta penyediaan fasilitas pascapanen.
Pelaksanaan setiap kegiatan tetap perlu dikawal melalui keterbukaan lokasi, kelompok penerima, tahapan pencairan, dan perkembangan pekerjaan. Jika seluruh program berjalan tepat sasaran, sawah yang sempat rusak dapat kembali produktif, air kembali mengalir, akses pertanian semakin terbuka, dan pemulihan ekonomi petani Kabupaten Solok dapat berlangsung lebih cepat.
(C8N)
#senyuman08






