Crew 8 News
JAKARTA,- Pemerintah melalui program Bantuan Kemasyarakatan (Banmas) Presiden pada Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah/2026 menyalurkan sebanyak 1.098 ekor sapi kurban ke seluruh Indonesia. Sebanyak 598 ekor didistribusikan melalui pemerintah daerah di berbagai wilayah Tanah Air, sedangkan 500 ekor lainnya disalurkan kepada pondok pesantren, organisasi keagamaan, lembaga sosial, serta kelompok masyarakat. Program ini menjadi salah satu penyaluran bantuan hewan kurban terbesar yang pernah dilakukan pemerintah secara nasional.
Program tersebut tidak hanya menjadi bagian dari syiar keagamaan, tetapi juga menjadi instrumen pemerataan bantuan sosial sekaligus pemberdayaan peternak lokal di berbagai daerah. Ribuan sapi yang disalurkan merupakan ternak pilihan terbaik dari masing-masing wilayah yang telah melalui proses seleksi kesehatan dan kelayakan sesuai ketentuan syariat.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp100 miliar untuk pengadaan sapi kurban tersebut. Seluruh hewan dibeli dari peternak lokal sehingga manfaat program tidak hanya dirasakan oleh penerima daging kurban, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat di sektor peternakan.
Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto menginginkan manfaat kurban dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat hingga ke pelosok negeri. Karena itu, pengadaan sapi dilakukan langsung dari peternak daerah dengan tetap mengutamakan kualitas, kesehatan, dan bobot ternak.
Selain disalurkan ke masjid-masjid agung, bantuan kurban Presiden juga menyasar kawasan pemukiman padat penduduk, wilayah perbatasan, daerah tertinggal, hingga kawasan yang pernah terdampak bencana alam. Distribusi dilakukan melalui koordinasi pemerintah daerah, dinas peternakan, dan panitia kurban setempat agar penyaluran daging berlangsung tepat sasaran.
Dari ribuan sapi yang disalurkan, sejumlah ternak dengan bobot fantastis menjadi perhatian masyarakat karena ukurannya yang jauh di atas rata-rata sapi kurban pada umumnya.
Salah satu yang terbesar adalah sapi berbobot sekitar 1,30 ton yang disembelih di Masjid Istiqlal. Hewan kurban tersebut menjadi sapi pertama yang disembelih di masjid terbesar di Asia Tenggara itu pada Hari Raya Iduladha.
Dagingnya kemudian dibagikan kepada ribuan warga, termasuk kaum dhuafa dan anak yatim di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Kehadiran sapi jumbo tersebut menarik perhatian masyarakat yang memadati area distribusi daging kurban.
Di Kota Bandung, Jawa Barat, seekor sapi berbobot sekitar 1,25 ton bernama Kang Jo atau Sheva dipilih sebagai bantuan Presiden setelah melalui seleksi ketat dari sejumlah kandidat yang diajukan pemerintah daerah. Sapi tersebut kemudian disalurkan melalui Rumah Pemotongan Hewan Ciroyom sebelum dagingnya didistribusikan kepada masyarakat.
Wilayah Solo dan Boyolali, Jawa Tengah, menerima sapi bernama Bambang dengan bobot mencapai 1,20 ton. Hewan jenis Brahman premium itu dipelihara secara khusus dan menjadi salah satu sapi terbesar yang masuk dalam program kurban Presiden tahun ini.
Di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sapi Limousin bernama Predator dengan bobot sekitar 1,17 ton turut menjadi perhatian. Nama Predator diberikan oleh peternaknya karena ukuran tubuh yang sangat besar dan posturnya yang gagah dibandingkan sapi lain di kandang.
Kota Tangerang juga menerima sapi Simmental bernama Parjo dengan bobot sekitar 1,15 ton. Sapi tersebut dirawat menggunakan pola pemberian pakan khusus sehingga mampu mencapai bobot ideal dan memenuhi standar seleksi pemerintah.
Dari Sumatera Barat, sapi bernama Tigo Selo berbobot sekitar 1,10 ton terpilih sebagai bantuan Presiden untuk Kabupaten Limapuluh Kota. Terpilihnya sapi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi peternak lokal karena menunjukkan kualitas peternakan daerah mampu bersaing di tingkat nasional.
Sementara itu, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, menerima sapi Black Panther dengan bobot sekitar 1,10 ton. Hewan berbulu hitam pekat itu menjadi salah satu sapi terbesar yang dikirim ke wilayah Indonesia bagian timur.
Jawa Tengah juga memperoleh sapi Simmental bernama Mbah Iran dengan bobot serupa. Hewan tersebut dikenal karena dipelihara secara tradisional namun mampu memenuhi standar kesehatan dan kualitas yang ditetapkan pemerintah.
Kabupaten Karanganyar menerima sapi bernama Ragil dengan bobot sekitar 1,10 ton, sedangkan Masjid Agung Surakarta menerima sapi Bambang Solo berbobot sekitar 1,08 ton yang proses serah terimanya menggunakan timbangan digital untuk memastikan keakuratan berat ternak.
Selain daftar sapi terbesar tersebut, sejumlah hewan kurban Presiden lainnya juga memberikan manfaat sosial yang besar bagi masyarakat.
Di Palembang, Sumatera Selatan, sapi bernama Panda dengan bobot sekitar 964 kilogram disembelih di Mushala Nurul Huda. Dagingnya berhasil dikemas menjadi sekitar 400 paket yang kemudian dibagikan kepada warga kurang mampu di lingkungan sekitar.
Di Samarinda, Kalimantan Timur, sapi Brahman Cross bernama Bejo dengan bobot sekitar 1.070 kilogram disembelih di kawasan Islamic Center Samarinda. Hewan tersebut dibeli dari peternak lokal dan menjadi salah satu sapi kurban terbesar yang diterima daerah tersebut.
Perhatian pemerintah terhadap wilayah terdampak bencana juga terlihat dari penyaluran sapi bernama Rambo berbobot sekitar satu ton ke Dukuh Cisadap, Desa Buara, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Sapi tersebut secara khusus dialokasikan bagi masyarakat yang sebelumnya terdampak banjir bandang. Kehadirannya menjadi simbol kepedulian negara sekaligus membawa kebahagiaan bagi warga yang masih berupaya memulihkan kondisi pascabencana.
Program bantuan sapi kurban Presiden selama ini tidak hanya dimaknai sebagai pelaksanaan ibadah kurban, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ekonomi yang kuat. Selain membantu masyarakat memperoleh daging kurban, program tersebut mendorong pertumbuhan sektor peternakan rakyat melalui pembelian ternak langsung dari peternak daerah.
Dengan total 1.098 ekor sapi yang tersebar di seluruh Indonesia, pemerintah berharap momentum Iduladha dapat memperkuat semangat gotong royong, solidaritas sosial, serta mempertegas kehadiran negara di tengah masyarakat hingga ke pelosok negeri. Distribusi yang menjangkau provinsi, kabupaten, kota, pondok pesantren, organisasi keagamaan, dan kelompok masyarakat tersebut menjadi wujud nyata bahwa manfaat kurban tidak hanya dirasakan di pusat-pusat kota, tetapi juga hadir di desa-desa, daerah terpencil, dan kawasan yang membutuhkan perhatian khusus dari negara.
(C8N)
#senyuman08






