CREW 8 NEWS | PADANG
Rekam jejak seseorang sering kali berbicara lebih jauh daripada kedekatan personal. Prinsip itulah yang digunakan kader Partai Gerindra Sumatera Barat sekaligus politisi senior Kabupaten Solok, Ir. Bachtul Bachtiar, ketika melihat sosok Ketua Umum Advokasi Rakyat Untuk Nusantara (ARUN), Bob Hasan.
Bachtul mengakui belum memiliki intensitas interaksi langsung dengan Bob Hasan dalam keseharian. Namun, sebagai salah satu Wakil Ketua dalam kepengurusan ARUN Sumatera Barat, ia mengikuti perkembangan organisasi serta kiprah Bob Hasan dalam membangun gerakan advokasi.
Dari pengamatan tersebut, Bachtul melihat Bob Hasan sebagai figur yang memiliki karakter penggerak.
“Kalau interaksi secara langsung dalam keseharian, saya memang belum banyak. Tetapi saya mengikuti rekam jejak beliau, bagaimana ARUN dibangun dan bagaimana beliau membawa organisasi ini dalam berbagai persoalan masyarakat,” kata Bachtul.
Bagi Bachtul, seorang penggerak tidak hanya dapat dilihat dari seberapa sering tampil di ruang publik. Ukurannya juga terlihat dari kemampuan membangun organisasi, merespons persoalan masyarakat dan menjadikan sebuah persoalan sebagai agenda yang perlu diperjuangkan melalui mekanisme yang tersedia.
“Yang saya lihat, Bob Hasan mempunyai karakter sebagai penggerak. Artinya, dia tidak hanya melihat persoalan sebagai sesuatu yang dibicarakan, tetapi bagaimana persoalan itu kemudian menjadi agenda advokasi,” ujarnya.
Bachtul menempatkan penilaiannya terhadap Bob Hasan dalam koridor rekam jejak. Ia tidak mengklaim sebagai orang yang mengenal Bob Hasan secara dekat dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, posisi tersebut justru membuat penilaiannya lebih tepat ditempatkan sebagai pengamatan terhadap kiprah publik dan kerja organisasi.
“Bagi saya, Bob Hasan adalah orang yang punya karakter penggerak. Saya melihatnya dari apa yang dilakukan dan rekam jejaknya. Tentu saya tidak mengatakan sebagai orang yang paling dekat dengan beliau, karena memang interaksi personal kami belum sampai ke sana,” katanya.
Menurut Bachtul, cara melihat seseorang melalui rekam jejak juga penting dalam menilai sebuah organisasi. Sebab, organisasi advokasi tidak cukup hanya memiliki struktur dan nama besar. Kehadirannya harus dapat dirasakan melalui kerja konkret.
Ia menilai advokasi masyarakat seharusnya tidak selalu ditempatkan dalam posisi berhadap-hadapan dengan pemerintah atau aparat penegak hukum.
“Advokasi itu bukan berarti harus selalu berhadap-hadapan dengan pemerintah. Advokasi juga bisa menjadi jembatan agar persoalan masyarakat mendapatkan penyelesaian yang benar, berdasarkan aturan dan kepentingan publik,” ujar Bachtul.
Posisi Bachtul menjadi menarik karena ia berada pada dua ruang organisasi sekaligus. Di satu sisi, ia merupakan kader Partai Gerindra Sumatera Barat dan politisi senior Kabupaten Solok. Di sisi lain, ia dipercaya menjadi salah satu Wakil Ketua ARUN Sumatera Barat.
Menurut Bachtul, kedua ruang tersebut memiliki fungsi masing-masing.
Politik memiliki mekanisme representasi dan pengambilan kebijakan. Sementara advokasi masyarakat mempunyai ruang untuk menyerap berbagai persoalan warga, memberikan pendampingan dan mendorong penyelesaian persoalan melalui jalur yang sesuai.
“Kita tentu memahami bahwa politik punya ruang dan mekanismenya sendiri. Sementara advokasi masyarakat juga mempunyai fungsi yang penting. Keduanya tidak harus dipertentangkan,” katanya.
Ia menilai ruang advokasi tetap diperlukan karena tidak semua persoalan masyarakat dapat diselesaikan melalui jalur politik formal.
Persoalan hukum, agraria, pelayanan publik, pembangunan hingga berbagai persoalan sosial membutuhkan saluran yang memungkinkan masyarakat menyampaikan kepentingannya secara terukur.
Karena itu, Bachtul berharap ARUN Sumatera Barat mampu mengambil peran dalam ruang tersebut.
“Yang penting bagi kita adalah bagaimana organisasi ini memberikan manfaat. Jangan sampai advokasi hanya berhenti pada wacana. Harus ada kerja nyata, pendampingan dan solusi bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam pandangan Bachtul, karakter Bob Hasan sebagai penggerak terutama terlihat dari upaya membangun jaringan dan membawa ARUN menjadi organisasi yang memiliki ruang advokasi di tengah berbagai persoalan publik.
Bachtul mengatakan, kerja organisasi tidak dapat berjalan apabila hanya mengandalkan satu orang. Dibutuhkan kemampuan membangun jaringan, mengonsolidasikan berbagai latar belakang dan mengarahkan energi organisasi pada persoalan yang dianggap penting bagi masyarakat.
Dalam konteks itulah ia melihat rekam jejak Bob Hasan.
“Yang bisa saya nilai adalah kiprah dan kerja organisasinya. Dari sana saya melihat ada semangat untuk membangun gerakan advokasi yang lebih luas,” kata Bachtul.
Ia berharap karakter penggerak tersebut dapat terus diterjemahkan ke dalam kerja-kerja konkret ARUN, khususnya di Sumatera Barat.
Menurutnya, tantangan organisasi advokasi ke depan bukan hanya bagaimana mengangkat persoalan ke ruang publik, tetapi juga memastikan masyarakat memperoleh pendampingan dan memahami jalur penyelesaian yang tersedia.
“Ukuran keberhasilan advokasi bukan hanya seberapa banyak isu yang kita bicarakan. Yang lebih penting adalah apakah masyarakat mendapatkan manfaat, apakah persoalannya dikawal dan apakah ada jalan penyelesaian yang sesuai dengan hukum,” katanya.
Bachtul menegaskan, pandangannya terhadap Bob Hasan bukan lahir dari hubungan personal yang intens. Ia memilih melihatnya dari apa yang dilakukan, bagaimana organisasi bergerak dan bagaimana rekam jejak tersebut terbentuk di ruang publik.
Pada akhirnya, bagi Bachtul, sosok Bob Hasan dapat dibaca melalui kerja yang ditinggalkannya dalam perjalanan ARUN.
“Kalau saya ditanya bagaimana melihat Bob Hasan, saya melihat beliau sebagai figur yang punya karakter penggerak. Itu yang saya tangkap dari rekam jejak dan kiprahnya,” ujarnya.
(C8N)
#senyuman08






