Empat Tahun Bertahan dengan Swadaya, Warga Tigo Lurah Menanti Janji Keluar dari Status 3T

Solok, Crew 8 News,– Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, sebagian masyarakat di Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok, hingga hari ini masih berjibaku dengan keterbatasan akses jalan, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan dasar lainnya. Sejumlah nagari di kawasan yang selama ini dikenal sebagai wilayah terpencil tersebut dinilai masih belum mampu keluar dari jeratan status 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Foto alat berat yang tengah membuka badan jalan menuju Nagari Garabak menjadi gambaran nyata perjuangan masyarakat setempat. Jalan tanah yang licin, berlumpur, dan rawan longsor masih menjadi pemandangan sehari-hari bagi warga yang harus menempuh perjalanan puluhan kilometer untuk mengakses pusat pelayanan pemerintahan maupun ekonomi.

Menurut tokoh masyarakat setempat Afdil Ahmad, kondisi tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan untuk mempertahankan akses jalan agar tetap bisa dilalui kendaraan, masyarakat terpaksa mengandalkan gotong royong dan swadaya.

“Sudah empat tahun masyarakat patungan membeli solar, membawa beras untuk konsumsi pekerja, serta mengumpulkan sumbangan warga demi mempertahankan jalan agar tetap bisa dilalui. Sampai hari ini Nagari Garabak belum pernah menikmati jalan beraspal,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, akses menuju Nagari Garabak mencapai sekitar 15 kilometer dengan tiga jembatan yang harus dilalui. Sementara dari Talang Babungo menuju Garabak jaraknya sekitar 27 kilometer dan dari Muaro Labuh melalui Sabiair sekitar 15 kilometer.

Selama ini masyarakat masih sangat bergantung pada satu unit excavator bantuan Pemerintah Kabupaten Solok yang ditempatkan di kawasan tersebut. Alat berat itu digunakan secara bergiliran untuk membuka jalan, membersihkan longsor, serta memperbaiki titik-titik kerusakan yang kerap terjadi akibat hujan.

Namun warga menilai keberadaan satu unit alat berat saja tidak cukup untuk menjawab persoalan mendasar yang mereka hadapi.

“Kami bersyukur ada bantuan excavator. Tetapi kebutuhan kami bukan sekadar membuka jalan darurat. Kami membutuhkan jalan yang layak, jembatan yang kuat, layanan kesehatan yang mudah dijangkau, serta fasilitas pendidikan yang memadai,” ujar salah seorang pemuda Tigo Lurah.

Kondisi geografis yang berat membuat biaya transportasi barang dan hasil pertanian menjadi tinggi. Tidak sedikit masyarakat yang harus mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk menjangkau sekolah, puskesmas, maupun pasar.

Para tokoh pemuda, ninik mamak, dan masyarakat Tigo Lurah berharap Pemerintah Kabupaten Solok, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, hingga pemerintah pusat dapat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap percepatan pembangunan kawasan tersebut.

Harapan besar juga ditujukan kepada Bupati Solok, Jon Firman Pandu, yang sebelumnya pernah menyoroti kondisi daerah terpencil di Kabupaten Solok saat persoalan akses jalan di kawasan Tigo Jangko menjadi perhatian publik. Saat itu, Jon Firman Pandu menegaskan bahwa wilayah-wilayah yang masih tertinggal harus menjadi prioritas pembangunan dan pemerintah daerah akan berupaya mencari solusi percepatan pembangunan infrastruktur dasar.

Pernyataan tersebut hingga kini masih diingat masyarakat Tigo Lurah yang berharap komitmen itu dapat diwujudkan dalam bentuk program konkret dan percepatan pembangunan.

“Bagi kami, persoalan ini bukan sekadar jalan. Ini tentang masa depan anak-anak kami, tentang akses kesehatan ibu hamil, tentang harga hasil pertanian, dan tentang keadilan pembangunan. Kami ingin Tigo Lurah benar-benar keluar dari status 3T,” kata seorang tokoh masyarakat.

Masyarakat berharap Bupati Solok dapat mengakselerasi seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait agar penyelesaian persoalan infrastruktur Tigo Lurah tidak lagi berjalan lambat. Mereka menilai pembangunan jalan, jembatan, jaringan komunikasi, pendidikan, dan kesehatan harus dilakukan secara terpadu agar wilayah tersebut mampu mengejar ketertinggalan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Bagi masyarakat Tigo Lurah, alat berat yang bekerja di tengah hutan hari ini bukan sekadar mesin pengeruk tanah. Ia menjadi simbol harapan bahwa suatu hari nanti anak-anak mereka tidak lagi tumbuh dalam keterisolasian, dan bahwa janji menghadirkan pembangunan hingga ke pelosok Kabupaten Solok benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh warga tanpa terkecuali.

(C8N)

#senyuman08

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini