Guru SDN 12 Tigo Jangko Tempuh 6 Jam Lewati “Aspal Merah”, Infrastruktur Buruk Disorot

Dialog Padang TV Ungkap Ketimpangan Pendidikan di Pelosok Kabupaten Solok

Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Crew8 News,- Kondisi infrastruktur pendidikan di daerah terpencil kembali menjadi sorotan. Para guru di SDN 12 Tigo Jangko, Nagari Tanjung Balik Sumiso, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok, harus menempuh perjalanan hingga enam jam melewati jalur ekstrem demi menjalankan tugas mengajar. Fakta ini mengemuka dalam dialog publik bertajuk “Elegi Guru di Negeri Terpencil” yang disiarkan Padang TV pada 30 April 2026.

Akses menuju SDN 12 Tigo Jangko sejauh kurang lebih 14 kilometer didominasi jalan tanah yang dikenal warga sebagai “aspal merah”. Jalur tersebut berlumpur, licin, dan berisiko tinggi, terutama saat hujan. Dalam kondisi tertentu, kendaraan tidak dapat melintas sehingga perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Salah satu tenaga pendidik di sekolah tersebut, Patra Minofa, mengungkapkan bahwa perjalanan menuju lokasi tugas tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga membahayakan keselamatan. Ia menyebut para guru kerap menghadapi risiko kecelakaan akibat kondisi jalan yang tidak layak.

Kami berangkat dengan risiko besar. Kalau hujan, jalan berubah jadi lumpur tebal, kendaraan sering terjebak,” ujarnya dalam dialog tersebut.

Selain akses jalan yang sulit, kondisi fasilitas sekolah juga menjadi perhatian. Guru lainnya, Doni Eka Putra, menyampaikan bahwa sarana pembelajaran di SDN 12 Tigo Jangko masih sangat terbatas. Ruang kelas sederhana, dengan kekurangan meja, kursi, serta perlengkapan belajar lainnya.

Menurutnya, kondisi ini telah berlangsung cukup lama dan telah diketahui oleh pihak terkait, namun hingga kini belum ada perbaikan signifikan.

Kami berharap ada perhatian nyata. Bukan hanya mendengar, tapi ada tindakan,” katanya.

Dari perspektif masyarakat, Budiman, pemuda setempat, menilai bahwa persoalan ini mencerminkan ketimpangan pembangunan antarwilayah. Ia menyebut isolasi geografis berdampak langsung terhadap kualitas pendidikan yang diterima anak-anak di daerah tersebut.

Kalau akses sulit, semua sektor terdampak, termasuk pendidikan. Anak-anak di sini jadi tertinggal,” ujarnya.

Isu ini juga berkaitan dengan kebijakan tunjangan guru di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Saat ini, wilayah Tigo Jangko masih masuk kategori tersebut sehingga para guru berhak menerima Tunjangan Khusus Guru (TKG).

Namun, muncul kekhawatiran terkait kemungkinan perubahan status wilayah secara administratif yang dapat berdampak pada hilangnya tunjangan, meskipun kondisi riil di lapangan belum mengalami perbaikan.

Di sisi lain, pemerintah pusat pada tahun 2026 telah meningkatkan alokasi anggaran TKG hingga ratusan miliar rupiah untuk menjangkau lebih banyak guru di daerah terpencil. Meski demikian, para tenaga pendidik di Tigo Jangko menilai bahwa besaran tunjangan yang diterima belum sebanding dengan risiko kerja yang dihadapi.

Permasalahan lain yang turut mencuat adalah keterlambatan pencairan tunjangan akibat kendala administratif, seperti pemutakhiran data pendidikan. Hal ini menyebabkan hak yang seharusnya diterima secara berkala tidak selalu terealisasi tepat waktu.

Selain itu, distribusi tenaga pengajar juga belum merata. Sekolah di wilayah terpencil seperti Tigo Lurah masih didominasi oleh guru non-ASN atau honorer. Banyak guru ASN yang memilih pindah tugas karena tidak mampu bertahan menghadapi kondisi geografis yang berat.

Akibatnya, beban pendidikan di daerah tersebut lebih banyak ditanggung oleh tenaga honorer yang memiliki keterbatasan dalam hal kesejahteraan.

Dalam diskusi yang disiarkan Padang TV, para narasumber sepakat bahwa solusi utama tidak hanya terletak pada pemberian tunjangan, tetapi juga pada pembangunan infrastruktur yang memadai, khususnya akses jalan menuju wilayah Tigo Jangko.

Mereka menilai bahwa tanpa perbaikan akses, berbagai program peningkatan kualitas pendidikan akan sulit berjalan optimal.

Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Solok diketahui telah menyalurkan Tunjangan Khusus Guru kepada ratusan tenaga pendidik di daerah terpencil. Namun, tuntutan masyarakat kini lebih difokuskan pada langkah konkret dalam pembangunan jalan yang layak dan aman.

Kondisi di Tigo Jangko menjadi gambaran nyata bahwa tantangan pendidikan di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kebijakan, tetapi juga menyangkut pemerataan pembangunan infrastruktur dasar.

Polemik ini menegaskan perlunya perhatian lebih serius terhadap daerah terpencil. Di tengah berbagai program nasional di sektor pendidikan, masih terdapat wilayah yang berjuang untuk mendapatkan akses dasar yang layak. Bagi para guru di Tigo Jangko, dedikasi mereka tidak hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang bertahan di tengah keterbatasan demi memastikan pendidikan tetap berjalan.

(C8N)

#senyuman08

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini