CREW 8 NEWS |JAKARTA
Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-10 Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM), Wakil Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IKM, Mel Sofyan, mengajak seluruh jajaran pengurus menjadikan momentum satu dekade perjalanan organisasi sebagai titik awal membangun kekuatan ekonomi perantau Minangkabau di tingkat nasional maupun internasional.
Menurut Mel Sofyan, selama sepuluh tahun terakhir IKM telah berhasil membangun fondasi organisasi yang kokoh. Kepengurusan telah terbentuk dari tingkat pusat, daerah hingga mancanegara, menjadikan IKM sebagai salah satu organisasi perantau Minangkabau terbesar di Indonesia. Modal sosial tersebut, katanya, kini harus ditransformasikan menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi seluruh anggota dan masyarakat.
“Dekade pertama IKM adalah membangun organisasi. Dekade kedua harus menjadi era membangun kekuatan ekonomi perantau Minangkabau,” ujar Mel Sofyan.
Ia menegaskan, keberhasilan organisasi ke depan tidak lagi cukup diukur dari luasnya jaringan kepengurusan atau banyaknya kegiatan seremonial. Lebih dari itu, IKM harus mampu menjadi organisasi yang menciptakan peluang usaha, memperluas akses pasar, membuka jaringan investasi, melahirkan wirausaha baru, serta memperkuat kesejahteraan para perantau dan kampung halamannya.
Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat akibat transformasi digital dan perkembangan Artificial Intelligence (AI), Mel Sofyan menilai organisasi perantau juga harus mampu beradaptasi. IKM, menurutnya, perlu menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan pengusaha, profesional, akademisi, pelaku UMKM, generasi muda, hingga diaspora Minangkabau di berbagai negara dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
“IKM harus menjadi rumah besar yang menghubungkan potensi, membuka peluang, dan melahirkan lebih banyak pengusaha, profesional, akademisi, pelaku UMKM, serta generasi muda Minangkabau yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” katanya.
Mel Sofyan menjelaskan bahwa pengusaha dapat menjadi mentor bagi UMKM, kalangan profesional membuka akses pekerjaan dan jejaring bisnis, akademisi menghadirkan inovasi dan pengembangan sumber daya manusia, sementara diaspora Minangkabau di berbagai negara dapat menjadi jembatan perdagangan, promosi investasi, ekspor produk unggulan, serta perluasan pasar bagi produk dan jasa asal Sumatera Barat.
“Jika seluruh potensi itu saling terhubung, kita tidak hanya membangun kesejahteraan bersama, tetapi juga melahirkan perantau Minangkabau yang lebih tangguh, mandiri, dan memiliki daya saing tinggi di mana pun mereka berada,” ujarnya.
Sebagai arah baru organisasi memasuki dekade kedua, Mel Sofyan mengusulkan lima agenda strategis yang dapat menjadi fokus bersama, yakni membangun basis data digital perantau Minangkabau sebagai pusat jejaring profesi dan usaha; membentuk IKM Business Network untuk mempertemukan pelaku usaha, investor, dan UMKM; mengembangkan program mentoring bagi wirausaha muda; mendorong investasi diaspora ke Sumatera Barat pada sektor-sektor produktif seperti pertanian, pariwisata, ekonomi kreatif, dan industri; serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan kewirausahaan, teknologi digital, dan kecerdasan buatan (AI).
Menurutnya, ukuran keberhasilan IKM di masa mendatang harus berubah.
“Ke depan, keberhasilan IKM bukan hanya diukur dari banyaknya pengurus, tetapi dari berapa banyak usaha yang lahir, lapangan kerja yang tercipta, investasi yang masuk ke kampung halaman, dan generasi muda Minangkabau yang berhasil dibina,” tegasnya.
Mel Sofyan juga mengingatkan bahwa keberhasilan seorang perantau tidak boleh berhenti pada pencapaian pribadi. Semakin kuat ekonomi, semakin luas jejaring, dan semakin tinggi daya saing yang dimiliki, semakin besar pula kontribusi yang dapat diberikan kepada masyarakat melalui investasi, pengembangan UMKM, peningkatan kualitas pendidikan, penciptaan lapangan kerja, maupun berbagai kegiatan sosial yang mendorong kemajuan Sumatera Barat.
Ia mengajak seluruh pengurus untuk terus memperkuat komunikasi, menjaga persaudaraan, serta membangun budaya kolaborasi sebagai kekuatan utama organisasi.
“Perbedaan adalah hal yang wajar dalam organisasi. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyatukan visi, saling mendukung, dan bersama-sama mencari solusi demi kemajuan IKM,” katanya.
Menurut Mel Sofyan, falsafah Minangkabau barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang harus menjadi semangat membangun kebersamaan, sementara falsafah di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung menjadi pedoman setiap perantau dalam menjaga nama baik Minangkabau sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat di mana pun berada.
Pada momentum HUT ke-10 IKM, Mel Sofyan juga menyampaikan apresiasi kepada para pendiri, sesepuh, seluruh Ketua Umum, jajaran pengurus, dan anggota IKM yang telah mendedikasikan tenaga, pikiran, serta waktunya sehingga organisasi terus tumbuh selama satu dekade.
“Atas nama pribadi, saya mengucapkan selamat hari jadi ke-10 IKM. Terima kasih kepada para pendiri, sesepuh, seluruh Ketua Umum, jajaran pengurus, dan seluruh anggota IKM di Indonesia maupun di berbagai negara. Fondasi yang telah dibangun selama ini adalah amanah yang harus kita jaga, rawat, dan kembangkan bersama,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Mel Sofyan mengajak seluruh keluarga besar IKM menjadikan dekade kedua sebagai babak baru perjalanan organisasi.
“Sudah saatnya IKM melangkah lebih jauh. Dari organisasi yang mempererat silaturahmi menjadi organisasi yang membangun kesejahteraan. Dari jaringan sosial menjadi jaringan ekonomi. Dari kebanggaan sebagai perantau menjadi kekuatan yang ikut membangun Indonesia sekaligus memajukan Ranah Minang. Mari kita satukan potensi, saling membuka peluang, saling menguatkan, dan membangun jejaring yang lebih luas. Ketika ekonomi perantau Minangkabau semakin kuat, kontribusi bagi kampung halaman pun akan semakin besar. Itulah cita-cita besar yang harus kita perjuangkan bersama.”
(C8N)
#senyuman08






