Mengapa Prabowo Selalu Menghampiri Anak-Anak? Membaca Gestur Presiden dalam Kerangka Asta Cita dan Indonesia Emas 2045

CREW 8 NEWS | JAKARTA

Gestur Presiden Prabowo Subianto ketika menghampiri dan menyapa anak-anak menjadi pemandangan yang relatif mudah ditemukan dalam dokumentasi berbagai kunjungan Presiden, baik di dalam negeri maupun saat menjalankan agenda kenegaraan di luar negeri.

Foto dan video mengenai interaksi tersebut juga berulang muncul di berbagai platform media sosial. Prabowo terlihat menghampiri anak-anak, berjabat tangan, menyapa, berkomunikasi singkat hingga memberikan perhatian secara langsung.

Fenomena tersebut menarik karena interaksi dengan anak-anak tidak hanya muncul dalam satu kegiatan atau satu lokasi. Dalam sejumlah dokumentasi kunjungan Presiden, anak-anak kerap menjadi bagian dari interaksi Prabowo dengan masyarakat.

Salah satu momen yang terdokumentasi secara resmi terjadi ketika Prabowo berada di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Jawa Timur, pada 17 Maret 2025. Presiden menghampiri anak-anak di tribun dan menyapa mereka.

Interaksi serupa juga terlihat dalam sejumlah kunjungan Presiden lainnya, termasuk ketika Prabowo melakukan perjalanan kenegaraan ke luar negeri. Dokumentasi pertemuan tersebut kemudian beredar luas melalui kanal resmi pemerintah maupun media sosial.

Jika dilihat sekilas, rangkaian interaksi tersebut dapat dianggap sebagai gestur human interest seorang Presiden. Namun, ketika ditempatkan dalam konteks agenda pemerintahan Prabowo-Gibran, muncul pertanyaan yang lebih besar: mengapa anak-anak kerap menjadi bagian dari interaksi Presiden, dan pesan apa yang dapat dibaca dari gestur tersebut?

Ketua Umum Pimpinan Nasional Forum Asta Cita Indonesia, Hasbi, menilai fenomena tersebut menarik dibaca dalam perspektif pembangunan jangka panjang.

Mengapa Prabowo selalu menghampiri anak-anak? Menurut kami, gestur Presiden kepada anak-anak memiliki konteks yang lebih besar. Ini dapat dibaca sebagai perhatian terhadap pembangunan manusia sebagai investasi menuju Indonesia Emas 2045,” kata Hasbi.

Menurut Hasbi, anak-anak yang hari ini ditemui Presiden merupakan generasi yang pada 2045 akan berada pada usia produktif dan menjadi bagian penting dari kekuatan bangsa.

Anak-anak yang ditemui Presiden hari ini bukan hanya objek pembangunan. Mereka adalah calon pelaku utama Indonesia pada 2045. Mereka akan menjadi birokrat, penegak hukum, pengusaha, petani, ilmuwan, teknokrat, pekerja industri dan pemimpin bangsa. Karena itu, yang dibangun hari ini bukan hanya manusianya, tetapi juga sistem yang nantinya mereka warisi,” ujarnya.

Karena itu, menurut Hasbi, Asta Cita tidak tepat jika hanya dipahami sebagai daftar program pemerintahan untuk satu periode.

Asta Cita perlu dilihat sebagai bagian dari fondasi transformasi Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.

Kalau kita melihat Asta Cita secara utuh, apa yang disiapkan Presiden Prabowo Subianto bukan hanya untuk kebutuhan hari ini. Ada generasi yang sedang dipersiapkan untuk menerima estafet Indonesia menuju 2045. Karena itu pembangunan manusia harus berjalan bersamaan dengan transformasi tata kelola birokrasi dan hukum, ketahanan ekonomi, pangan dan energi, serta hilirisasi yang berkelanjutan,” kata Hasbi.

Dalam perspektif tersebut, pembangunan manusia menjadi salah satu fondasi utama. Pemenuhan gizi, kesehatan, pendidikan, karakter, keterampilan serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi modal penting untuk menyiapkan generasi masa depan.

Namun, pembangunan manusia membutuhkan sistem negara yang mampu menopangnya.

Transformasi tata kelola birokrasi dan hukum menjadi penting untuk membangun institusi yang efektif, profesional, transparan dan memberikan kepastian hukum.

Di sisi lain, ketahanan ekonomi, pangan dan energi menentukan kemampuan negara menghadapi berbagai gejolak sekaligus memastikan kebutuhan dasar masyarakat dapat dipenuhi secara berkelanjutan.

Agenda hilirisasi juga memiliki dimensi antargenerasi. Kekayaan sumber daya alam didorong agar tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi menghasilkan nilai tambah, memperkuat industri nasional dan membuka lapangan kerja, dengan tetap memperhatikan keberlanjutan.

Generasi emas tidak mungkin lahir dari sistem yang lemah. Kita membutuhkan manusia yang unggul sekaligus negara dengan birokrasi yang efektif, hukum yang memberikan kepastian, ekonomi yang tangguh, pangan dan energi yang berdaulat, serta industri yang mampu mengolah kekayaan alam menjadi nilai tambah. Semuanya saling berkaitan,” ujar Hasbi.

Kerangka tersebut sejalan dengan arah pembangunan pemerintah yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, kesehatan, penguatan sains dan teknologi, prestasi olahraga serta pengembangan pemuda sebagai bagian penting dari agenda nasional.

Program Makan Bergizi Gratis, penguatan pendidikan dan kesehatan, pengembangan talenta hingga pembangunan sektor produktif kemudian menjadi instrumen yang diarahkan untuk memperkuat kualitas manusia Indonesia.

Tetapi, menurut Hasbi, keberhasilan agenda tersebut tidak cukup diukur dari seberapa sering Presiden terlihat menyapa anak-anak.

Gestur Presiden merupakan simbol, sedangkan ukuran akhirnya berada pada kebijakan dan hasil pembangunan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Simbol itu harus bertemu dengan kebijakan. Kalau kita benar-benar ingin mencapai Indonesia Emas 2045, maka investasi terbesar negara harus tetap manusia Indonesia, terutama anak-anak yang hari ini sedang tumbuh menjadi generasi masa depan,” katanya.

Dengan demikian, pertanyaan mengenai mengapa Prabowo kerap menghampiri anak-anak dapat dibaca lebih luas dari sekadar persoalan human interest.

Anak-anak yang hari ini ditemui Presiden merupakan generasi yang kelak akan menerima estafet Indonesia.

Mereka akan hidup dalam sistem pemerintahan dan hukum yang dibangun hari ini, menggerakkan ekonomi, menjaga ketahanan pangan dan energi, mengembangkan industri, sekaligus menentukan arah Indonesia setelah memasuki satu abad kemerdekaan.

Pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang siapa yang memimpin Indonesia pada masa depan.

Lebih jauh, ia berbicara tentang manusia seperti apa yang akan mengisi Indonesia, sistem seperti apa yang mereka warisi, dan seberapa kuat fondasi yang dibangun negara hari ini.

Dan di tengah keramaian sebuah kunjungan kenegaraan, ketika seorang Presiden memilih menghampiri seorang anak, gestur sederhana itu dapat menjadi simbol dari sebuah agenda yang jauh lebih besar: mempersiapkan manusia dan negara untuk menerima estafet Indonesia menuju 2045.

(C8N)

#senyuman08

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini