CREW 8 NEWS | KOTO BARU SOLOK Pemerintah pusat terus mempercepat pemulihan infrastruktur air bersih di Kabupaten Solok pascabencana hidrometeorologi yang mengakibatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Melalui dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sejumlah proyek rehabilitasi dan rekonstruksi kini telah memasuki tahap pembangunan fisik, sementara program lanjutan atau tahap II disiapkan untuk mulai dilaksanakan pada 2027.
Program penanganan tersebut dilaksanakan melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Sumatera Barat dan Balai Wilayah Sungai (BWSS) V Sumatera sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam memulihkan layanan air bersih bagi masyarakat di wilayah terdampak bencana.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Solok Nan Indah Kabupaten Solok, Febri Fauza, S.Pt., M.M., mengatakan proses penanganan pascabencana dilakukan secara bertahap. Sebelum memasuki pekerjaan konstruksi, setiap proyek harus melalui proses identifikasi kerusakan, penyusunan Detail Engineering Design (DED), hingga pemenuhan berbagai persyaratan teknis dan administrasi.
“Penanganan ini merupakan tindak lanjut pascabencana hidrometeorologi. Untuk daerah-daerah yang terdampak, saat ini sebagian besar sudah memasuki tahap pembangunan fisik. Memang proses perencanaannya memerlukan waktu sekitar enam bulan sebelum pekerjaan dapat dimulai,” ujar Febri Fauza, RABU (29/7).
Berdasarkan data penanganan yang dihimpun, pembangunan permanen Filter Intake SPAM Saniang Baka telah memasuki tahap pelaksanaan. Sementara di SPAM Aie Badarun, Nagari Paninggahan, Kecamatan Junjung Sirih, pembangunan jaringan distribusi dan jembatan pipa sedang berlangsung, sedangkan pembangunan broncaptering, jaringan pipa transmisi, reservoir, dan instalasi pengolahan air masih dalam proses penyusunan DED.Selanjutnya, SPAM Tabek Kaciak di Nagari Gantuang Ciri, Kecamatan Kubung, telah memasuki tahap pembangunan fisik setelah proses perencanaan dan persiapan lahan diselesaikan. Begitu pula dengan SPAM Aia Abui di Nagari Koto Gaek, Kecamatan Gunung Talang, yang kini tengah dikerjakan sebagai bagian dari program rehabilitasi pascabencana.
Di tingkat daerah, Pemerintah Kabupaten Solok di bawah kepemimpinan Bupati Jon Firman Pandu dan Wakil Bupati H. Candra terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat guna mempercepat pemulihan infrastruktur air minum. Dukungan tersebut diwujudkan melalui koordinasi lintas organisasi perangkat daerah, fasilitasi penyediaan lahan, percepatan penyelesaian dokumen administrasi, serta memastikan seluruh persyaratan yang dibutuhkan pemerintah pusat dapat dipenuhi sehingga pelaksanaan proyek berjalan sesuai jadwal.Selain proyek yang sedang berjalan, pemerintah pusat juga menyiapkan program rehabilitasi dan rekonstruksi tahap II yang direncanakan mulai dilaksanakan pada 2027.
Program tersebut meliputi pembangunan SPAM Saniang Baka dengan estimasi anggaran sekitar Rp80 miliar, SPAM Surian sekitar Rp24 miliar, serta SPAM Talang Babungo sekitar Rp9 miliar.Menurut Febri Fauza, sebelum program tahap II dapat direalisasikan, Pemerintah Kabupaten Solok bersama Perumda Air Minum Tirta Solok Nan Indah harus memenuhi seluruh persyaratan readiness criteria yang ditetapkan pemerintah pusat.
“Pemda bersama PDAM diwajibkan menyiapkan seluruh readiness criteria, mulai dari kesiapan lahan, jalur pipa, dokumen lingkungan, hingga seluruh perizinan yang dipersyaratkan. Kelengkapan dokumen tersebut menjadi syarat utama agar program rehabilitasi dan rekonstruksi dapat dianggarkan dan dilaksanakan sesuai rencana,” jelasnya.
Ia menambahkan, dukungan Pemerintah Kabupaten Solok menjadi faktor penting dalam memenuhi seluruh persyaratan tersebut. Di bawah arahan Bupati Jon Firman Pandu dan Wakil Bupati H. Candra, perangkat daerah terkait bersama Perumda Air Minum Tirta Solok Nan Indah terus mempercepat penyelesaian kesiapan lahan, jalur pipa, dokumen lingkungan, serta berbagai perizinan agar program rehabilitasi dan rekonstruksi tahap II dapat direalisasikan sesuai target pada 2027.
Febri menegaskan, Perumda Air Minum Tirta Solok Nan Indah tidak bertindak sebagai pelaksana konstruksi, melainkan berperan sebagai fasilitator sejak awal proses penanganan bencana. Peran tersebut dimulai dari pelaporan kerusakan kepada pemerintah pusat, pendampingan survei lapangan, penyiapan lokasi pekerjaan, fasilitasi pembebasan lahan jalur pipa, hingga penyediaan lahan untuk bangunan pendukung seperti reservoir, broncaptering, dan bak penampung air.
Menurutnya, keberhasilan pemulihan sistem penyediaan air minum tidak hanya bergantung pada dukungan pendanaan APBN, tetapi juga pada sinergi seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten Solok di bawah kepemimpinan Jon Firman Pandu–H. Candra, Perumda Air Minum Tirta Solok Nan Indah, serta masyarakat menjadi kunci percepatan rehabilitasi infrastruktur air bersih di daerah terdampak.
Dengan progres pembangunan yang terus berjalan dan kesiapan program tahap II yang mulai dipersiapkan, Pemerintah Kabupaten Solok optimistis layanan air bersih bagi masyarakat terdampak dapat pulih secara bertahap.
Lebih dari itu, pembangunan ini diharapkan mampu menghadirkan sistem penyediaan air minum yang lebih andal, tangguh, dan berkelanjutan dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi di masa mendatang.
(C8N)
#senyuman08
Sumber: Direktur Perumda Air Minum Tirta Solok Nan Indah Kabupaten Solok, Febri Fauza, S.Pt., M.M.; data penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi SPAM pascabencana hidrometeorologi Tahun 2026–2027.






