Rudy Repenaldi Rilis dan Ujian Empati di Tengah Galodo Solok: Belum Menjabat, Tetapi Sudah Dipertanyakan Publik

CREW 8 NEWS|SOLOK

Proses penetapan Sekretaris Daerah (Sekda) definitif Kabupaten Solok mulai mendapat sorotan publik. Bukan hanya menyangkut hasil seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama, tetapi juga mengenai rekam jejak dan sikap calon pejabat terhadap daerah yang kelak akan menjadi bagian dari tanggung jawabnya.

Salah satu nama yang menjadi perhatian adalah Rudy Repenaldi Rilis, yang masuk tiga besar calon Sekda Kabupaten Solok.

Secara administratif, Rudy memang belum menjadi Sekda Kabupaten Solok. Ia masih berada dalam proses seleksi dan penetapan calon pejabat pimpinan tinggi pratama. Namun, posisi tersebut membuat publik mulai melihat lebih jauh sikap dan kepeduliannya terhadap Kabupaten Solok, terlebih ketika daerah itu sedang menghadapi bencana galodo.

Galodo yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Solok menempatkan pemerintah daerah dalam situasi tanggap darurat. Berbagai unsur lintas sektor bergerak melakukan penanganan, mulai dari pemerintah daerah, TNI-Polri, lembaga pemerintah, organisasi masyarakat, dunia usaha hingga masyarakat dari berbagai daerah.

Gelombang solidaritas juga terlihat dari kedatangan berbagai pihak yang membawa bantuan, alat berat, logistik maupun dukungan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak.

Namun di tengah situasi tersebut, muncul pertanyaan mengenai keberadaan dan keterlibatan Rudy Repenaldi Rilis.

Di mana posisi Rudy ketika Kabupaten Solok sedang menghadapi bencana?

Berdasarkan penelusuran terhadap sejumlah publikasi dan dokumentasi resmi yang tersedia, belum terlihat jejak keterlibatan Rudy dalam sejumlah agenda utama penanganan tanggap darurat yang dipublikasikan Pemerintah Kabupaten Solok.

Kondisi tersebut kemudian berkembang menjadi pertanyaan publik, bukan semata mengenai kewajiban administratif Rudy, melainkan menyangkut empati seorang calon pejabat pimpinan tinggi terhadap daerah yang kelak akan menjadi tempatnya mengemban tanggung jawab pemerintahan.

Memang, Rudy belum memiliki kewenangan sebagai Sekda Kabupaten Solok. Karena itu, tidak tepat apabila seluruh tanggung jawab penanganan bencana dilekatkan kepadanya.

Namun, persoalan yang dipertanyakan publik berada pada ranah berbeda.

Kehadiran dan empati tidak selalu harus menunggu seseorang dilantik.

Ketika sebuah daerah yang akan menjadi tempat seseorang mengemban amanah sedang dilanda musibah, publik dapat menilai apakah calon pejabat tersebut menunjukkan perhatian, solidaritas atau setidaknya kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit.

Galodo menjadi ujian nyata bagi seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat Kabupaten Solok. Bencana tersebut tidak hanya menguji kemampuan teknis pemerintah dalam melakukan evakuasi, pencarian korban, pembersihan material dan pemulihan infrastruktur, tetapi juga memperlihatkan sejauh mana solidaritas berbagai pihak terhadap masyarakat terdampak.

Di tengah kondisi itu, pertanyaan mengenai Rudy pun menjadi lebih substantif.

Jika ketika Kabupaten Solok sedang menghadapi bencana saja belum terlihat bentuk empati atau keterlibatan yang jelas, seperti apa ekspektasi publik terhadap kepeduliannya ketika kelak tanggung jawab pemerintahan benar-benar berada di pundaknya?

Pertanyaan tersebut juga beririsan dengan posisi Sekda sebagai salah satu jabatan paling strategis dalam birokrasi daerah.

Sekda bukan sekadar pejabat administratif. Posisi tersebut memiliki fungsi penting dalam membantu kepala daerah mengoordinasikan perangkat daerah, menyinkronkan kebijakan, menjaga kesinambungan pemerintahan dan pembangunan serta memastikan pelayanan publik berjalan.

Karena itu, publik tentu tidak hanya melihat calon Sekda dari sisi persyaratan administratif maupun hasil tahapan seleksi. Rekam jejak kepemimpinan, kemampuan koordinasi, pemahaman terhadap karakter daerah dan hubungan dengan masyarakat juga menjadi bagian dari ekspektasi publik terhadap pejabat yang nantinya menduduki posisi tersebut.

Dalam konteks itu pula, perhatian publik terhadap Rudy menjadi relevan.

Apalagi proses penetapan Sekda berlangsung ketika Kabupaten Solok masih berada dalam periode penanganan dampak galodo. Berbagai pihak justru datang menunjukkan solidaritas kepada daerah tersebut.

Munculnya pertanyaan mengenai Rudy juga secara tidak langsung menjadi pertanyaan kepada Pemerintah Kabupaten Solok, khususnya Bupati Jon Firman Pandu dan Wakil Bupati H. Candra, mengenai parameter yang digunakan dalam menentukan Sekda definitif.

Publik tentu berhak mengetahui apakah keputusan nantinya semata-mata didasarkan pada hasil seleksi dan penilaian Panitia Seleksi, atau juga mempertimbangkan rekam jejak kepemimpinan, pengalaman birokrasi, kemampuan membangun koordinasi serta komitmen terhadap masyarakat dan daerah.

Namun demikian, absennya nama Rudy dalam sejumlah publikasi dan dokumentasi resmi belum dapat dijadikan bukti bahwa yang bersangkutan sama sekali tidak pernah datang atau memberikan dukungan kepada Kabupaten Solok.

Karena itu, ruang klarifikasi tetap terbuka.

Rudy perlu menjelaskan kepada publik aktivitasnya selama masa tanggap darurat. Jika pernah hadir, melakukan koordinasi, memberikan bantuan atau bentuk dukungan lainnya yang belum terpublikasi, penjelasan tersebut penting agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh.

Pada akhirnya, keputusan mengenai siapa yang akan menduduki jabatan Sekda berada dalam mekanisme dan kewenangan pemerintah sesuai ketentuan yang berlaku.

Namun, di tengah bencana yang memperlihatkan begitu banyak pihak datang membantu Kabupaten Solok, pertanyaan publik terhadap salah satu calon Sekda tidak dapat diabaikan.

Belum menjadi Sekda memang berarti belum memiliki kewenangan sebagai Sekda. Tetapi untuk menunjukkan empati kepada daerah yang kelak akan dipimpin dalam lingkup birokrasi, seseorang tidak harus menunggu pelantikan.

Kini pertanyaan yang menunggu jawaban bukan hanya siapa yang akan menjadi Sekda Kabupaten Solok.

Lebih jauh, publik ingin mengetahui apa yang telah dilakukan Rudy Repenaldi Rilis untuk daerah yang sedang menghadapi bencana dan kelak berpotensi menjadi bagian dari tanggung jawab kepemimpinannya.

Sebab bagi masyarakat yang sedang berduka, empati bukan sekadar kata. Ia terlihat dari sikap, kehadiran dan kepedulian ketika sebuah daerah sedang berada dalam keadaan paling membutuhkan.

(C8N)

#senyuman08

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini