Crew8 News
Jakarta – Pemerhati geopolitik dan geostrategi, Bungas T Fernando Duling, menilai strategi penguatan energi domestik dan pembangunan sistem logistik nasional menjadi langkah penting Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Dalam analisisnya, Fernando menyebut dunia saat ini tidak lagi menghadapi ancaman perang terbuka berskala besar, melainkan berada dalam kondisi sustained tension atau ketegangan berkepanjangan antar kekuatan global. Persaingan tersebut, menurutnya, tidak hanya berlangsung dalam bidang militer, tetapi juga pada penguasaan sumber daya strategis seperti energi, air, dan jalur logistik.
Menurut Fernando, Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto menunjukkan upaya memahami perubahan karakter konflik global tersebut melalui kebijakan yang menekankan penguatan kapasitas domestik.
“Dalam geopolitik modern, perebutan pengaruh tidak lagi hanya soal wilayah, tetapi juga penguasaan rantai pasok energi dan logistik. Negara yang mampu mengendalikan dua sektor ini akan memiliki daya tahan ekonomi yang lebih kuat,” kata Fernando dalam esainya.
Ia menjelaskan bahwa sikap Indonesia yang tetap mempertahankan prinsip non-blok di tengah rivalitas antara Amerika Serikat dan China merupakan bentuk penerapan konsep strategic autonomy. Pendekatan tersebut memungkinkan Indonesia menjaga kemandirian dalam menentukan kebijakan nasional tanpa bergantung pada kepentingan salah satu blok kekuatan global.
Secara historis, sikap tersebut memiliki akar pada prinsip-prinsip yang lahir dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung. Namun dalam konteks saat ini, menurut Fernando, prinsip tersebut tidak hanya bersifat ideologis, melainkan juga strategi realistis untuk menjaga kepentingan nasional di tengah meningkatnya proteksionisme global.
Selain itu, ia menyoroti perubahan paradigma dalam pengelolaan energi nasional, khususnya melalui penguatan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO). Kebijakan tersebut mendorong prioritas pemanfaatan sumber daya energi bagi kebutuhan domestik sebelum dialokasikan untuk ekspor.
Fernando menilai langkah tersebut penting mengingat posisi Indonesia sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia. Dengan memastikan pasokan energi bagi industri dalam negeri, Indonesia dinilai memiliki peluang memperkuat proses industrialisasi serta mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
“Selama ini kita bangga menjadi pemasok energi bagi industri negara lain. Paradigma itu mulai dibalik, di mana sumber daya energi harus menjadi pendorong utama pertumbuhan industri domestik,” ujarnya.
Dalam analisisnya, Fernando juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur logistik nasional sebagai bagian dari strategi kedaulatan ekonomi. Ia menilai efisiensi distribusi komoditas dan energi menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Peran PT Kereta Api Indonesia bersama anak usahanya KAI Logistik disebut memiliki posisi strategis dalam mendukung sistem distribusi tersebut, khususnya dalam pengangkutan komoditas sumber daya alam dari wilayah produksi menuju pusat industri maupun pelabuhan ekspor.
Fernando menyebut konsep heavy haul railway atau jalur rel angkutan komoditas dalam skala besar dapat menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi distribusi logistik nasional. Pembangunan jaringan rel yang terintegrasi dengan kawasan industri dan pelabuhan dinilai mampu menekan biaya logistik serta mempercepat mobilisasi sumber daya alam.
Menurutnya, penguatan sistem logistik tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan nasional dalam menghadapi gejolak global.
“Energi dan logistik adalah dua elemen yang menentukan kedaulatan negara di era modern. Negara yang mampu menguasai rantai distribusi sumber dayanya sendiri akan memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap tekanan global,” katanya.
Fernando menambahkan bahwa upaya hilirisasi sumber daya alam yang sedang didorong pemerintah juga merupakan bagian dari strategi memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global. Melalui hilirisasi, Indonesia diharapkan tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga sebagai produsen produk bernilai tambah.
Ia menilai kombinasi antara kedaulatan energi, sistem logistik yang efisien, serta penguatan industri domestik dapat menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk menghadapi tantangan geopolitik abad ke-21.
“Jika sistem energi dan logistik nasional mampu terintegrasi secara efisien, Indonesia tidak hanya akan mampu bertahan dalam dinamika global, tetapi juga berpotensi memainkan peran lebih besar dalam ekonomi dunia,” ujarnya.
Fernando menegaskan bahwa dalam persaingan global saat ini, kekuatan sebuah negara tidak lagi hanya diukur dari kapasitas militernya, tetapi juga dari kemampuannya mengelola sumber daya strategis dan memastikan distribusinya berjalan efektif.
“Pada akhirnya, siapa yang menguasai energi dan jalur logistik akan memegang kunci kedaulatan di abad ke-21,” kata Fernando.
(C8N)
#senyuman08






