CREW 8 NEWS| SOLOK
PANINGGAHAN, — Menikmati secangkir kopi sambil memandang hamparan Danau Singkarak dari kawasan perbukitan menjadi pengalaman yang ditawarkan Kafe Rimbo Ulu Paninggahan, Nagari Paninggahan, Kecamatan Junjung Sirih, Kabupaten Solok.
Berada di tengah lanskap perbukitan yang mengelilingi kawasan Paninggahan, Kafe Rimbo Ulu menghadirkan perpaduan antara kopi lokal, panorama alam dan suasana khas pedesaan. Dari lokasi tersebut, pengunjung dapat menikmati bentang Danau Singkarak sekaligus merasakan atmosfer kawasan yang sejak lama memiliki hubungan dengan perkebunan kopi.
Potensi itu mendapat perhatian Wakil Bupati Solok H. Candra, S.H.I. yang mendorong pengembangan kawasan Ulu Rimbo Paninggahan sebagai bagian dari potensi ekonomi dan pertanian daerah.
Dalam kunjungannya ke perkebunan kopi Ulu Rimbo pada Agustus 2025, Candra menyebut pemerintah daerah tengah mendorong pemanfaatan kawasan Area Penggunaan Lain (APL) yang luasnya hampir 1.000 hektare untuk dikembangkan melalui konsep pertanian terpadu atau integrated farming. Penanaman bibit kopi juga dilakukan sebagai bagian dari komitmen pengembangan kawasan tersebut.
Bagi Candra, pengembangan Kopi Ulu Rimbo bukan sekadar membuka kembali lahan perkebunan. Kawasan tersebut memiliki sejarah panjang yang menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Paninggahan.
Jejak sejarah yang dihimpun CIFOR-ICRAF mencatat kawasan Kopi Ulu Paninggahan berada pada areal enclave sekitar 1.050 hektare dengan ketinggian 700 hingga 900 meter di atas permukaan laut di lereng bukit utara Danau Singkarak. Sumber tersebut menyebut kawasan ini sebagai salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan kopi robusta di Sumatera Barat.
Cerita sejarah itu bermula pada 1826, ketika pemerintah kolonial Belanda menjalankan program pembangunan perkebunan kopi di Paninggahan untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Sejumlah tokoh masyarakat kemudian menawarkan pembangunan perkebunan kopi rakyat, dengan hasil produksi dijual kepada pemerintah kolonial.
Dalam narasi sejarah yang dihimpun CIFOR-ICRAF, pada masa awal tersebut masyarakat Paninggahan membuka lahan untuk menanam kopi robusta di kawasan hulu atau ulu. Dari sinilah istilah Perkebunan Kopi Ulu kemudian dikenal.
Perjalanan perkebunan itu tidak selalu berjalan mulus. Ketika produksi kopi meningkat, pemerintah kolonial melakukan monopoli terhadap hasil perkebunan. Masyarakat Paninggahan kemudian melakukan penolakan.
Pada 21 Juni 1932, tokoh masyarakat atau ninik mamak Paninggahan menggelar rapat nagari yang menghasilkan surat permintaan agar Perkebunan Kopi Ulu dikembalikan kepada masyarakat. Dua tahun kemudian, menurut catatan CIFOR-ICRAF, permintaan tersebut dikabulkan melalui keputusan pemerintah kolonial pada 1934.
Sejarah tersebut kemudian memasuki periode kemunduran. Pada sekitar 1950–1965, aktivitas perkebunan Kopi Ulu menurun akibat kondisi keamanan, harga kopi yang tidak menentu dan tingginya biaya produksi. Dalam perkembangannya, sebagian kawasan perkebunan ditinggalkan dan berubah menjadi kawasan berhutan.
Kini, warisan tersebut kembali mendapat perhatian.
Pemerintah Kabupaten Solok mendorong kawasan Ulu Rimbo untuk dikembangkan melalui pertanian terpadu. Semangat menghidupkan kembali perkebunan juga muncul dari petani generasi muda yang melihat membaiknya peluang ekonomi komoditas kopi.
Kehadiran Kafe Rimbo Ulu memberikan dimensi berbeda terhadap potensi tersebut. Kopi tidak hanya dipandang sebagai hasil perkebunan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Pengunjung dapat menikmati produk kopi sekaligus melihat langsung lanskap alam Paninggahan. Danau Singkarak menjadi latar utama, sementara perbukitan di sekeliling kawasan memberikan karakter tersendiri bagi tempat tersebut.
Potensi ini semakin menarik ketika dipadukan dengan kreativitas generasi muda. Kehadiran artis Minang dan konten kreator KALEK ( rumor beredar kalek lagi mempersiapkan diri untuk berpartisipasi di jalur politik DPD RI) menjadi bagian dari upaya memperkenalkan suasana Kafe Rimbo Ulu kepada publik melalui ruang digital.
Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, petani, seniman dan kreator konten dapat menjadi kekuatan baru dalam mempromosikan potensi lokal.
Cerita yang dibawa pun bukan sekadar tentang tempat untuk minum kopi.
Ada sejarah panjang di balik nama Ulu Rimbo. Ada masyarakat yang sejak generasi terdahulu mengembangkan kopi. Ada kawasan perbukitan yang menghadap Danau Singkarak. Dan ada peluang untuk mengubah potensi tersebut menjadi aktivitas ekonomi dan wisata yang memberikan manfaat kepada masyarakat.
Bagi Kabupaten Solok, pengembangan Kopi Ulu Rimbo juga sejalan dengan gagasan menjadikan produk lokal sebagai kekuatan ekonomi daerah. Pemerintah daerah sebelumnya telah mendorong Kopi Rimbo Hulu/Paninggahan sebagai salah satu potensi produk unggulan melalui konsep One Village One Product dan pertanian terpadu.
Kafe Rimbo Ulu kemudian menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan seluruh potensi tersebut.
Kopi menjadi produk utama. Danau Singkarak menjadi panorama. Bukit menjadi lanskap. Sejarah menjadi cerita. Sementara kreativitas digital menjadi sarana untuk memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas.
Dengan pendekatan tersebut, pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati secangkir kopi. Mereka datang untuk merasakan suasana Paninggahan, melihat Danau Singkarak dari ketinggian dan mengenal kembali cerita Kopi Ulu yang telah melewati perjalanan panjang.
Wabup Candra pun mendorong agar semangat masyarakat dan dukungan lintas sektor terus diperkuat sehingga Kopi Ulu Rimbo Paninggahan dapat berkembang menjadi komoditas bernilai ekonomi sekaligus bagian dari identitas daerah.
Dari perkebunan yang menyimpan cerita masa lalu, kini muncul ruang baru untuk menikmati kopi dengan cara berbeda.
Kafe Rimbo Ulu Paninggahan menawarkan satu pengalaman dalam satu tempat: secangkir kopi, panorama Danau Singkarak, perbukitan Paninggahan dan cerita panjang Kopi Ulu yang kembali dihidupkan.
Dari Rimbo Ulu, cerita kopi Paninggahan kini tidak hanya diseduh di dalam cangkir, tetapi juga dibawa ke ruang digital untuk diperkenalkan kepada generasi baru.
(C8N)
#senyuman08






