CREW 8 NEWS
Tuban Jatim,— Teknologi pupuk batu bara mulai diposisikan sebagai instrumen strategis nasional di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap pupuk kimia impor dan meningkatnya degradasi kualitas tanah pertanian. Pemerintah, khususnya Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, menunjukkan dukungan kuat terhadap pengembangan inovasi ini sebagai bagian dari agenda besar swasembada pangan, efisiensi pemupukan, serta hilirisasi sumber daya alam domestik.
Inovasi tersebut memanfaatkan batu bara kalori rendah, terutama lignit atau brown coal, yang selama ini memiliki nilai ekonomi rendah di sektor energi, untuk diolah menjadi pembenah tanah dan pupuk organomineral berbasis asam humat. Kandungan utama yang dimanfaatkan bukan unsur karbon sebagai bahan bakar, melainkan senyawa organik alami seperti humic acid dan fulvic acid yang mampu memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan penyerapan unsur hara tanaman.
Secara teknis, proses produksi dilakukan melalui ekstraksi batu bara muda menggunakan larutan basa seperti NaOH atau KOH untuk menghasilkan asam humat. Senyawa tersebut kemudian diformulasikan ulang dengan bahan lain seperti dolomit, zeolit, batuan fosfat, kompos, hingga unsur NPK sehingga menghasilkan pupuk majemuk yang tidak hanya menyuplai nutrisi, tetapi juga merehabilitasi lahan pertanian yang mengalami kejenuhan akibat penggunaan pupuk kimia sintetis jangka panjang.
Selain batu bara mentah, teknologi ini juga berkembang melalui pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dari PLTU yang telah memenuhi standar keamanan tertentu. Limbah pembakaran batu bara tersebut diolah menjadi bahan amelioran tanah maupun campuran pupuk, sejalan dengan konsep ekonomi sirkular dan pengurangan limbah industri energi.
Dari sisi agronomi, pupuk batu bara dinilai memiliki sejumlah keunggulan signifikan. Berbagai penelitian menunjukkan penggunaan asam humat mampu menekan kebutuhan pupuk kimia seperti urea dan NPK hingga 25–50 persen. Pupuk ini juga meningkatkan kapasitas tukar kation tanah, memperbaiki daya simpan air, merangsang aktivitas mikroorganisme, serta membantu mengembalikan unsur mikro penting seperti Fe, Zn, Cu, dan Mn yang selama ini menurun akibat eksploitasi lahan intensif.
Momentum dukungan pemerintah terhadap teknologi ini semakin terlihat dalam agenda Panen Raya Jagung Serentak bersama Polri di Tuban, Jawa Timur, Mei 2026. Dalam kegiatan tersebut, Presiden Prabowo Subianto secara langsung menyaksikan demonstrasi efektivitas pupuk batu bara pada lahan pertanian. Presiden disebut terkesima setelah mendapat penjelasan bahwa tanah yang selama ini jenuh akibat dominasi pupuk kimia dapat direstorasi menggunakan pupuk berbasis asam humat dengan kandungan lebih dari 20 unsur hara alami.
Dalam dialog lapangan, Presiden langsung mempertanyakan aspek kemandirian produksi nasional dengan menyoroti potensi pengurangan impor bahan baku pupuk. Fokus pertanyaan Presiden mengarah pada kemampuan teknologi tersebut diproduksi secara massal di dalam negeri agar Indonesia tidak lagi bergantung pada pasokan pupuk global.
Arah kebijakan itu selaras dengan langkah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang mendorong efisiensi pemupukan nasional dan hilirisasi agroindustri. Kementerian Pertanian mulai memetakan produsen pupuk organik dan pembenah tanah berbasis asam humat untuk diintegrasikan ke dalam ekosistem pertanian nasional.
Di sisi lain, Kementan juga memperketat pengawasan mutu agar setiap pupuk alternatif yang beredar wajib lolos uji laboratorium bersertifikat guna menjamin kualitas dan keamanan bagi petani. Langkah ini dinilai penting untuk menghindari peredaran produk pupuk non-standar yang dapat merugikan sektor pertanian.
Dukungan lintas sektor juga mulai terlihat. Polri menjadi salah satu institusi yang menerapkan teknologi pupuk batu bara pada lahan perkebunan binaan mereka di berbagai daerah, terutama untuk mendukung peningkatan produksi jagung nasional. Sementara itu, Kementerian ESDM mendukung pengembangan teknologi ini melalui kebijakan hilirisasi batu bara dan Program Peningkatan Nilai Tambah (PNT), dengan mendorong pemanfaatan batu bara kalori rendah untuk kebutuhan agroindustri dibanding sekadar diekspor sebagai bahan bakar murah.
Dalam konteks ekonomi nasional, pupuk batu bara membuka peluang baru bagi diversifikasi industri tambang Indonesia. Batu bara yang sebelumnya hanya dipandang sebagai komoditas energi kini mulai diarahkan menjadi bahan baku industri pangan dan pertanian. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam domestik, tetapi juga memperkuat agenda ketahanan pangan nasional.
Meski demikian, tantangan implementasi masih cukup besar. Pemerintah tetap harus memastikan standar keamanan produk, terutama terkait potensi residu logam berat pada bahan berbasis FABA. Selain itu, diperlukan uji lapangan jangka panjang untuk memastikan efektivitas pupuk pada berbagai jenis tanah dan komoditas pangan strategis seperti padi, jagung, dan hortikultura.
Namun dengan kombinasi dukungan politik, riset akademik, dan hilirisasi industri, teknologi pupuk batu bara mulai dipandang sebagai salah satu terobosan potensial dalam membangun kedaulatan pangan sekaligus transisi pemanfaatan batu bara menuju sektor non-energi yang lebih produktif dan berkelanjutan.
(C8N)
#senyuman08






