JAKARTA, Crew8 News 1 Mei 2026,- Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Indonesia berlangsung dalam skala besar dan menjadi salah satu mobilisasi buruh terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Aksi serentak digelar di 38 provinsi dan lebih dari 350 kabupaten/kota, dengan pusat konsentrasi massa di Jakarta yang dipadati puluhan hingga ratusan ribu pekerja dari berbagai sektor.
Di ibu kota, massa buruh yang tergabung dalam sejumlah konfederasi, termasuk Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Partai Buruh, memusatkan aksi di depan Gedung DPR RI sebelum bergerak menuju kawasan Istora Senayan. Sementara itu, kelompok buruh lainnya menggelar aksi di kawasan Monumen Nasional (Monas). Aksi serupa juga berlangsung di berbagai daerah seperti Yogyakarta dan Surabaya, melibatkan buruh formal, pekerja informal, hingga pengemudi ojek online (ojol).
Isu kesejahteraan dan keadilan sosial menjadi tema utama dalam aksi tahun ini. Para buruh menyuarakan tuntutan reformasi regulasi ketenagakerjaan, perlindungan terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK), serta penguatan jaminan sosial. Mereka juga menolak sejumlah kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada pekerja.
Aksi berlangsung relatif tertib dan damai. Serikat buruh menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari hak konstitusional untuk menyampaikan pendapat di muka umum, sekaligus momentum refleksi atas kondisi ketenagakerjaan nasional di tengah tekanan ekonomi global.
Di tengah gelombang aksi tersebut, Presiden Prabowo Subianto hadir langsung dalam peringatan May Day di kawasan Monas, Jakarta. Dalam pidatonya yang emosional dan penuh penekanan, Presiden menyampaikan sejumlah kebijakan strategis yang disebut sebagai bentuk keberpihakan negara terhadap buruh.
Salah satu poin utama adalah pengesahan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT), regulasi yang telah diperjuangkan selama lebih dari dua dekade. Selain itu, Presiden juga mengumumkan pembentukan Satuan Tugas Mitigasi PHK dan Kesejahteraan Buruh melalui Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2026, yang bertujuan mengantisipasi potensi gelombang PHK di tengah ketidakpastian ekonomi.
Dalam sektor ekonomi digital, Presiden secara tegas menolak skema potongan 20 persen terhadap pengemudi ojek online. Ia menilai kebijakan tersebut tidak adil dan berpotensi membebani pekerja lapangan.
Presiden juga menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga buruh sekaligus mendorong perputaran ekonomi di sektor pertanian. Dalam bagian lain pidatonya, ia menegaskan komitmen pemerintah dalam memberantas korupsi, dengan menyebut praktik korupsi sebagai pengkhianatan terhadap rakyat.
“Negara harus hadir dengan kebijakan nyata, bukan sekadar janji,” ujar Presiden di hadapan massa buruh yang memadati kawasan Monas.
Aksi simbolik Presiden yang membuka jaket dan melempar topinya ke arah massa menjadi sorotan, mencerminkan upaya membangun kedekatan emosional dengan para pekerja. Respons massa pun terlihat antusias, dengan sorakan dan dukungan yang menggema di lokasi acara.
Sementara itu, sejumlah pengamat menilai bahwa peringatan May Day 2026 tidak hanya menjadi ajang demonstrasi tahunan, tetapi juga menunjukkan konsolidasi kekuatan buruh sebagai aktor politik yang semakin diperhitungkan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti pentingnya reorientasi strategi gerakan buruh agar mampu berperan lebih efektif dalam mempengaruhi kebijakan publik di tingkat nasional.
Di daerah, aksi buruh berlangsung dengan pola serupa, mengedepankan tuntutan kesejahteraan dan perlindungan kerja. Di beberapa titik, aparat keamanan disiagakan untuk memastikan jalannya aksi tetap kondusif.
May Day 2026 menjadi penanda kuat bahwa isu ketenagakerjaan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Di satu sisi, negara menunjukkan sinyal keberpihakan melalui kebijakan dan komitmen politik. Di sisi lain, buruh tetap menuntut implementasi nyata dan berkelanjutan dari setiap janji yang disampaikan.
Dengan dinamika tersebut, peringatan Hari Buruh tahun ini tidak hanya menjadi simbol perjuangan, tetapi juga momentum penting dalam menguji arah kebijakan ketenagakerjaan Indonesia ke depan.
(C8N)
#senyuman08






